Sabtu (9/5), Prof. DR. Ir. Deny Juanda Puradimaja, DEA beserta jajaran struktural Bappeda Provinsi Jawa Barat meninjau bencana longsor di Kampung Cibitung, Desa Margamukti, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Pada hari yang sama pula turut hadir Menteri Sosial Republik Indonesia Khofifah Indar Parawansa dan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan yang juga sedang mendatangi dan menyantuni korban longsor. Bencana ini terjadi pada Selasa (5/5) sekitar pukul 14.00 WIB. Kondisi terkini di lokasi kejadian sangat memprihatinkan, dengan 6 korban tewas sudah ditemukan, 3 lainnya masih dalam proses pencarian oleh anggota Polri, TNI, PMI dan relawan lainnya, sementara 177 jiwa lainnya mengungsi di Balai Desa Margamukti. Selain memberi dukungan moril, Kunjungan Menteri Sosial juga memberikan bantuan materil kepada para pengungsi khususnya para lima orang ahli waris korban meninggal dunia yang sudah teridentifikasi masing-masing sebesar Rp. 15 Juta rupiah Dalam tinjauan yang dilakukan, Prof. Deny banyak berinteraksi dengan beberapa orang yang berwenang mengenai bencana ini, diantaranya Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Drs. H. Dani Herdiana, M.Si, Anggota Basarnas Jawa Barat dan anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana). Masing-masing memberikan keterangan mengenai kronologi bencana longsor di Kampung Cibitung Kecamatan Pangalengan ini. Rida menjelaskan, sebelum longsor sudah ada masukan dari badan geologi mengenai kondisi tanah di sana yang labil. Beberapa hari sebelumnya juga hujan deras mengguyur hingga menyebabkan tanah bergeser dan terjadi longsor besar. Sebelumnya, bencana longsor ini sudah dapat diprediksi ada retakan tanah di bibir jurang tanah yang longsor beberapa bulan lalu. Saat kejadian beberapa orang sedang memancing di kolam sehingga tidak bergeming, dua orang selamat namun seorang lagi terseret longsor, ungkap anggota Basarnas. Setelah meninjau dan mendengarkan keterangan dari beberapa sumber, Kepala Bappeda meminta Kepala Bidang Sosial Budaya, bagaimana sosok manusia Jawa Barat yang cocok hidup di lingkungan seperti ini, di daerah pegunungan misalnya. Masyarakat harus sadar bencana, masyarakat harus menyadari lingkungan dimana mereka tinggal itu ada bencana atau tidak. Mereka yang tinggal di gunung jangan merusak lingkungan, tutur Prof. Deny.