Curug luhur Curug Ciletuh jeung Curug Cimarinjung panghibur kalbu Curug Manik nu narik ati Curug Cingangsa tengah jeung Curug Awang nyirnakeun rasa kamelang Curug Sodong matak helok anu nempo Nyawang palataran di Puncak Dharma, ningali di Mekarsari, noropong di Panenjoan BAIT tersebut mengiringi seni cepet pembuka penampilan Sanggar Mutiara asuhan Toto Sugiarto, dalam seremoni penyambutan Ciletuh Geopark Festival, Minggu, 27 Agustus 2017. Pembukaan Ciletuh Geopark Festival 2017 ini berlangsung di GOR Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Seni cepet yang identik dengan acara pembukaan di Sukabumi itu juga dikonsultasikan dengan tarian Putri Kadita. Pada cerita rakyat aslinya Putri Kadita diusir dari pantai selatan dan mengamuk. Namun, Toto menggubah naskahnya untuk memamerkan karya agung Geopark Ciletuh. Maka saat penari pemeran Kadita dan para dayang hadir di panggung, keindahan bahari Ciletuh pun digambarkan lugas. “Maju ka lebah Ciwaru, malipir ka basisir Loji, ngoloyong ka Rawakalong, nembus terus ka Citepus, ngalanglang Sakawayana.” Syukuran Ciletuh jadi kawasan geopark kali ini juga diramaikan 200 seniman dari 8 kecamatan kawasan geopark. Syukuran bertema Culture Meet Nature ini merayakan ketiga kalinya festival geopark digelar di Ciletuh, tahun ini. Festival tingkat kabupaten telah digelar sebelumnya di Pantai Palangpang dan Ujunggenteng. Selain pentas seni, terdapat gelaran budaya, pameran kerajinan dan kuliner lokal, juga wayang golek. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat Ida Hernida merencanakan festival keempat digelar event selancar internasional di Cimaja. Seperti diketahui Ciletuh telah terdaftar jadi calon UNESCO Global Geopark, yang nasibnya akan ditentukan September 2017 ini. Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar yang hadir membuka festival pun meminta doa pada seluruh masyarakat Sukabumi. “Tanggal 1 sampai 4 September nanti, akan datang assessor yang mengamati Ciletuh. Akankah jadi Geopark yang standar internasioanal, itu akan segera diumumkan di Tiongkok tahun ini,” ujar Deddy. Dia mengatakan, doa adalah hal yang tidak dapat diremehkan dalam usaha meraih keberhasilan. Di samping itu pemerintah pun terus berupaya dalam mempermudah digitalisasi, homestay, dan konestivitas di kawasan wisata Ciletuh. “Masyarakat terus dibina dalam mengelola homestay. Untuk connectivity, kami targetkan Tol Bocimi bisa sampai Cigombong, Lido, tahun depan. Itu paling penting, soalnya orang Sukabumi ke Jakarta suka bilangnya mau umrah. Karena perjalanannya 9 jam,” ujar Deddy, kemudian disambut tepuk tangan meriah. Pemprov Jabar telah mengucurkan APBD Rp 211 miliar tahun ini di samping banyaknya penyaluran dana CSR untuk Ciletuh. Termasuk pembukaan jalur ke Puncak Dharma yang kini sangat efisien. Deddy Mizwar juga menegaskan akan meminta Kementerian Perhubungan untuk pengadaan bandara alternatif di Sukabumi pada 2018. Kemudian, kata Deddy, biodiversitas budaya amatlah penting. “Ruh pariwisata itu budaya. Laut, gunung, sungai di manapun banyak. Tapi yang membedakan itu manusianya yang menjadikannya pantas dibudidayakan. Maka jangan dirusak, batuan puluhan juta tahun. Jangan dicoret, jangan dijadikan motorcross,” kata Deddy seraya menyatakan akan mendatangkan kembali banteng ke habitatnya di Ciletuh. Jangan tercemar sampah dan pemerasan Indonesia hanya punya satu lagi harapan setelah Rinjani dan Danau Toba gagal jadi UGG. Jika Ciletuh ikut gugur, kesempatan ikut serta jadi nominee lagi butuh waktu bertahun-tahun. Namun, ada kekhawatiran yang cukup mengganggu optimisme pemerintah. Antara lain laporan banyaknya sampah, dan harga tak masuk pada barang dagangan yang diberlakukan warga. “Di Pantai Palangpang banyak sampah karena banyak pengunjung. Harganya juga gila-gilaan. Jangan sampai ada pemerasan. Mencari keuntungan padahal pengunjung tidak nyaman,” katanya. Meskipun, angka wisatawan nusantara masuk ke Jawa Barat cukup menggembirakan yakni sekitar 44 juta orang. Deddy mengatakan, harga terlampau tinggi dilaporkan para penyewa homestay di Palangpang dan sekitarnya. “Harga kopi saja dikeluhkan sampai Rp 15.000, parkir, tiket masuk sangat mahal,” kata Deddy. Terindikasi karena tempat sampah kurang tersedia di lokasi wisata, juga karena masyarakat belum dibina untuk pengelolaan kebersihan yang baik. PR memantau beberapa destinasi wisata di kawasan Geopark Ciletuh, Minggu, 27 Agustus 2017. Seperti Pantai Karanghawu, Puncak Habibie, Pemandian Air Panas Cisolok, dan Pantai Loji. Hampir di semua titik tersebut terdapat sampah berserakkan, yang umumnya wadah dan botol plastik bekas makanan pengunjung. Sosialisasi kepada masyarakat tentang sapta pesona harus terus digalakkan agar membuat wisatawan nyaman. Hal itu diamini Dana Budiman Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi di tempat yang sama. “Agar nyaman di kios-kios harga dimunculkan, supaya tidak merasa menipu. Soal sampah, sistemnya memang belum optimal, SDM dan bak sampah kurang. Masih dicermati bagaimana supaya ada pengambilan sampah ke sana,” kata Dana. Sejak pemerintah berkoar Ciletuh jadi kawasan geopark, magnet wisata ke Sukabumi bukan hanya Palabuhanratu saja. Kata Dana, kunjungan bulanan ke Ciletuh bisa sampai 60.000 wisatawan. Pada musim liburan dan hari raya, kunjungannya sampai 120.000 orang. Asep dari Paguyuban Alam Pakidulan Sukabumi (PAPSI) menyatakan sangat bersyukur karena desanya Ciemas di Kecamatan Ciemas, sudah tidak lagi jadi desa tertinggal. Kini, warga berdaya melalui rumah yang difungsikan juga jadi homestay, dan banyak warga memanfaatkan limbah alam sebagai bahan baku kerajinan. “Dulu kami tanam beras hitam tidak laku. Sekarang jadi produk oleh-oleh andalan kami,” kata Asep. Sebaris kalimat dari naskah pentas Toto saat membuka festival, tampaknya jadi harapan besar bersama. Darat, laut, leuweung, walungan, jeung budaya bakal lana. Pek raksa, riska, jeung piara, pikeun karaharjaan di alam kasajagatan. (Gita Pratiwi)