NGAMPRAH, (PR).- Selain rencana pembangunan Museum Gua Pawon, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga masih berhutang merealisasikan rencana pembangunan geotheatre di kawasan karst Citatah, Kabupaten Bandung Barat. Padahal, rencana pembangunan geotheatre itu sudah diwacanakan Wakil Gubernur Jabar Deddy Mizwar sejak 2015 lalu. Ditemui di Ngamprah, akhir pekan lalu, Deddy menyatakan, rencana pembangunan geotheatre terkendala oleh anggaran untuk membebaskan lahan masyarakat. “Geotheatre ada hambatan tentang pembebasan tanah dan APBD. Tahun ini kan APBD provinsi banyak disalurkan buat sekolah,” kata Deddy, seusai menghadiri peringatan hari ulang tahun Sekolah Islam Terpadu Fithrah Insani di Jalan Haji Gofur, Desa Tanimulya. Dia beralasan, Pemprov Jabar memiliki banyak kebutuhan dalam penggunaan anggaran. Setelah tahun lalu anggaran provinsi banyak tersedot untuk pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional XIX/2016, maka tahun ini banyak anggaran yang diperlukan pemprov buat alih kelola SMA/SMK dari pemerintah kabupaten/kota. “Ya mungkin tahun depan baru mulai bebaskan tanah, karena memang banyak keperluannya. Setelah tahun lalu untuk PON, sekarang kan ada alih kelola SMA/SMK dari kabupaten/kota ke provinsi. Itu banyak menghabiskan dana,” tuturnya. Pada Februari 2015 lalu, Deddy mengunjungi sejumlah lokasi di kawasan karst Citatah yang berada di Padalarang dan Cipatat. Sejumlah pewarta mengira dia melakukan inspeksi mendadak penambangan liar, namun ternyata Deddy mengaku tengah menyurvei lokasi pembangunan geotheatre. Ketika itu, Deddy menyatakan bahwa pembangunan geotheatre dimaksudkan untuk pemberdayaan masyarakat dan sebagai tempat untuk melakukan kegiatan ekonomi kreatif, sehingga masyarakat tak bergantung pada penambangan. Dalam bayangannya saat itu, pembangunan geotheatre membutuhkan lahan minimal 70 hektare. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bandung Barat Rakhmat Syfi’i menuturkan, Pemkab Bandung Barat sangat menyambut baik jika rencana pembangunan geotheatre dan Museum Gua Pawon bisa terealisasi, karena dapat meningkatkan daya tarik wisata, yang selama ini lebih terpusat di daerah Lembang. “Sebagai orang Bandung Barat, ya memang saya pun mengharapkan secepatnya dibangun, tapi kan itu kewenangan provinsi. Kami sangat menunggu-nunggu, jadi buat pariwisata itu bisa tersebar. Di utara kan sudah banyak di Lembang, di tengah KBB kalau geotheatre dan Museum Gua Pawon itu jadi pasti wow, baguslah. Kemarin waktu ada sosialisasi hasil penemuan rangka Manusia Pawon, soal geotheatre itu juga saya sampaikan,” kata Rakhmat. Namun demikian, dia mengaku belum tahu banyak mengenai realisasi pembangunan geotheatre. “Sebenarnya dokumen animasi geotheatre-nya sudah ada di saya, dari provinsi, tapi lokasinya juga kan belum ditentukan. Saya pernah tanyakan ke provinsi, tahun 2016 itu sudah dianggarkan untuk pembebasan lahan 100 hektare, tapi sama sekali tidak ada yang terserap. Makanya, tahun ini enggak dianggarkan,” tuturnya. Menurut dia, rencana pembangunan geotheatre kemungkinan akan berada di antara Gunung Hawu dan Gunung Pabeasan. Walaupun dari Jalan Raya Cipatat kedua gunung itu tampak sudah mulai rusak oleh penambangan, dari arah berlawanan pemandangan indah terhampar karena daerahnya masih banyak yang hijau. (Hendro Susilo Husodo)