Jabar Lawan Kekerasan Seksual terhadap Anak
Di Posting Oleh : HUMAS BAPPEDA JABAR, Tanggal : 23 May 2016 14:43 , Dilihat Sebanyak : 154 Kali

Bandung, Bappeda Jabar.- Sebagai reaksi untuk melawan segala bentuk kekerasan seksual terhadap anak di Provinsi Jawa Barat, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Bappeda (Bappeda) Provinsi Jawa Barat melalui Bidang Sosial Budaya gelar Focus Group Discussion (FGD) bertema Gerakan Jabar melawan Kekerasan Seksual pada Anak, 18 Mei 2016 lalu, di Ruang Sidang Sosial dan Budaya Kantor Bappeda Provinsi Jawa Barat pukul 09.00 WIB.

FGD tersebut dibuka oleh Kepala BP3AKB Provinsi Jawa Barat Dr. Ir. Dewi Sartika, M.Si. dan berlangsung dengan tiga pembicara utama yakni Asisten Deputi Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Rini Handayani SE. MM; Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan, Yanti Sriyulianti; dan Peneliti Pusat Kajian Gender dan Anak Institut Pertanian Bogor Dr. Ir. Dwi Hastuti, M.Sc. Turut hadir sejumlah perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Provinsi Jawa Barat, lembaga dan organisasi masyarakat serta para akademisi dari pelbagai perguruan tinggi di Jawa Barat.

Sebagai pembuka, Kepala BP3AKB Provinsi Jawa Barat, Dewi Sartika mengatakan bahwa FGD tersebut adalah tindaklanjut terkait upaya Jawa Barat melawan semua bentuk kekerasan seksual terhadap anak, dan sebagai wadah menerima pelbagai masukan agar dirumuskan kembali dalam perencanaan untuk digulirkan menjadi program daerah.

“Ini tentu saja dilandasi dari kasus-kasus yang akhir-akhir ini memukul kita semua, menampar kita semua. Misalnya kasus YY Bengkulu, yang terjadi di Bogor, Sukabumi, Karawang, Bekasi, Kota Bandung, Cirebon,” ungkap Dewi.

Dalam materi yang ia paparkan, hampir 80% kasus kekerasan seksual terjadi pada anak perempuan. Angka tertinggi kekerasan seksual terhadap anak tersebut terjadi di Kabupaten Indramayu, Kabupaten Garut, Kabupaten Bandung, Kota Depok dan Kota Cirebon.

Penyebab kasus tersebut, lanjut Dewi, antara lain lemahnya pengawasan orang tua, anak mengalami cacat tubuh, gangguan tingkah laku, kemiskinan keluarga, keluarga broken home akibat perceraian, ketiadaan ibu dalam jangka panjang, keluarga belum matang secara psikologis, pengulangan sejarah kekerasan orang tua, kondisi lingkungan yang buruk, kesibukan orang tua, dan kurangnya pendidikan orang tua kepada anak.

“Jawa Barat masih menjadi daerah dengan angka kekerasan seksual kepada anak yang tinggi. 80% kasus kekerasan seksual terjadi terhadap perempuan,” tutur Dewi.

Setelah pembukaan, materi pertama FGD disajikan oleh Rini Handayani SE. MM, Asisten Deputi Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Dilanjutkan oleh Yanti Sriyulianti dari Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan dan Dr. Ir. Dwi Hastuti, M.Sc. Peneliti Pusat Kajian Gender dan Anak Institut Pertanian Bogor.

Diskusi berlangsung hangat sekitar tiga jam dengan sesi tanya jawab dan para peserta FGD turut serta menyuarakan pandangan dan argumentasinya. (Fajar)