Tim Penilai PPD Kunjungi Desa Majasari
Di Posting Oleh : bappeda jabar humas, Tanggal : 05 Apr 2018 08:52 , Dilihat Sebanyak : 126 Kali

INDRAMAYU, BAPPEDA JABAR – Tim Penilai Penghargaan Pembagunan Daerah (PPD) melakukan Kunjungan Lapangan ke Desa Majasari, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Rabu (4/4/18). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Tahapan penilaian PPD setelah dihari sebelumnya tim mendengarkan paparan langsung dari kepala Bappeda Ir. Yerry Yanuar, MM di Kantor Bappeda Jl. Ir. Juanda, Kota Bandung.

Dalam Kunjungannya, tim penilai yang terdiri dari Tim Penilai Independen Prof Hermanto Siregar ahli Ekonomi IPB, Tim Penilai Utama Diana Irawati Asisten Deputi Sekertariat Kabinet, dan Tim Penilai Teknis Rizang Wrihanolo dari Bappenas itu mengaku senang bisa mengunjungi desa yang menjadi peraih juara I lomba desa tingkat nasional tahun 2016.

Penghargaan Pembangunan Daerah adalah suatu penghargaan yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah yang memiliki perencanaan pembangunan terbaik dan dinilai sukses meningkatkan kualitas pembangunan daerah. Penilaian mengenai perencanaan pembangunan tersebut dilakukan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional atau Bappenas. PPD diberikan setelah mengikuti seleksi dan penilaian bertahap dan berjenjang oleh suatu tim juri independen yang dibentuk Bappenas RI.

Menurut Rizang Wriharnolo sebagai Ketua Tim Penilai dari Bappenas mengatakan bahwa Forum yang sebelumnya dikenal dengan Anugerah Pangripta Nusantara ini merupakan forum yang mulia, Selain untuk pelaksanaan Penilaian PPD, juga merupakan forum silaturahmi dari pusat ke daerah.

“Catatan positif ternyata masyarakat masih mempertahankan tradisi bertani sebagai mata pencaharian utamanya dan ini sebuah inovasi.” Ujar Rizang.

Ia menambahkan bahwa bertani menjadi value lebih atau nilai yang sangat baik untuk saat ini. Selain itu, bertani dengan berbagai macam cara dan mempertahankan tradisinya justru yang paling sulit untuk diterapkan pada zaman modern ini.

“Dari 80.000 desa, mungkin hanya ada 100 saja, yang berkembang seperti Desa majasari dan bisa dikatakan sebagai desa yang unik dan langka.” Tandasnya.

Desa Majasari, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu berhasil meraih predikat sebagai desa terbaik di Indonesia tahun 2016. Dalam penilaian ketat yang dilakukan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Desa Majasari berhasil menyingkirkan nominasi desa terbaik lainnya di Tanah Air.

“Satu penghargaan bagi kami karna bapak dan ibu bisa melihat keadaan desa saya seperti apa, dan saya ingin memperlihatkan kemadirian desa sebagai salah satu inovasi PPD di Jawa Barat.” Ujar Wartono Kepala Desa Majasari.

Desa Majasari dinilai berhasil memberdayakan keberadaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di desa tersebut sehingga mampu menekan angka kemiskinan di desa itu sehingga angka kemiskinan yang tadinya 18% menjadi 6% dari total penduduk desa tersebut.

Dari total jumlah penduduk Desa Majasari yang berjumlah sebanyak 3.000 orang lebih, sekitar 80 persennya berprofesi sebagai TKI. Namun keberadaan TKI ini ternyata berhasil diberdayakan untuk pembangunan desa oleh sang kepala desa.

Kepala Desa mengarahkan uang yang diterima para keluarga para TKI itu untuk keperluan produktif seperti membangun usaha dan lainnya, tidak hanya habis untuk kebutuhan konsumtif. Angka warga miskin pun terus berkurang dan masyarakatnya semakin maju.

Lebih lanjut selain masyarakat miskinnya terus berkurang, sarana infrastruktur juga terbilang maju. Kepala Desa dinilai mampu merangkul semua warga desanya untuk bersama-sama membangun sarana dan insfrastruktur di desa tersebut dengan segala kemampuan warga desanya. Geliat pembangunan dari kegiatan CSR juga mulai berkembang saat tim menuju lapangan.

selain sarana infrastruktur yang tebilang maju, dari sisi pendidikan dan penguasaan teknologi pun tidak kalah dengan masyarakat perkotaaan. Bahkan, masyarakat di sana sudah terbiasa menggunakan internet untuk berkomunikasi dengan keluargannya yang menjadi TKI.

Desa Majasari bisa mengedukasi warganya agar pandai menggunakan internet seperti aplikasi Skype, mereka sudah terbiasa untuk berkomunikasi dengan keluarganya di luar negeri. Tak heran desa ini pun disebut desa yang masyarakatnya dianggap melek teknologi dan informasi

Berikut ini Program yang diusung Kepala Desa Majasari diantaranya: Geliat gotong royong warga, Memberikan keadilan kepada Para TKI, Memberikan akses Informasi, Menintegrasikan kegiatan migran(TKI) dengan para petani peternak dsb, Akses pelayanan publik yg prima (web desa, sms broadcast, radio komunitas, sosmed, jaringan RTRW), Model pendistribusian beras berbasis ATM, Kluster usaha berbasis pertanian peternakan, Rumah edukasi TKI, Gerakan bersih desa, Penanaman 1 juta pohon, Koperasi amanah, Majasari Kidspreneur, Pembangunan rumah literasi, Magrib Mengaji, Lumbung beras terintegrasi, dsb.

Diakhir paparan, Wartono berharap bahwa sistem yang ada dan sudah berjalan ingin terus ditingkatkan tentunya dengan dukungan semua pihak, dan program yang akan segera dibangun bisa menambah kemandirian Desa Majasari menjadi desa yang lebih baik lagi.

Profesor Hermanto Siregar ahli Ekonomi IPB memberi penilaian bahwa ada suatu koordinasi dan konektivitas yang sangat bagus di Desa Majasari baik dari Kepala Desa, Stakeholder maupun Masyarakatnya.

“Yang sudah bagus menurut saya bisa dipertahankan dan apa saja harapan dari Desa Ini bisa menjadi kenyataaan untuk segera dilaksanakan.” Tambah Prof Hermanto.

Desa majasari sudah bertransformasi dari label IDT ( Inpres Desa Tertinggal) menjadi yg desa yang  membanggakan. Kuncinya gotong royong, Budaya lestari dan semua potensi potensi bisa dimaksimalkan. Adanya pembinaan sinergitas baik vertical maupun horizontal.

“Saya sangat bangga dengan desa ini, kedepan inovasi ini harus ditularkan kepada desa yg lain. Teruskan inovasi ini kalau bisa ditularkan ke desa lainnya yang terdekat seperti desa tetangga mungkin seperti Desa Majasih dan yang lainnya.” Imbuh Guru Besar Ekonomi IPB tersebut.

Diakhir pertemuan Tim Penilai beserta rombongan melakukan kunjungan ke Kandang Ternak dan Lahan Persawahan milik warga untuk keperluan dokumentasi yang akan menjadi laporan sebagai Inovasi Penghargaan Pembangunan Daerah di Jawa Barat. (Rama)