Sampah TPSA Jalupang Produksi Gas Metana untuk 600 KK
Di Posting Oleh : bappeda jabar humas, Tanggal : 14 Nov 2017 09:04 , Dilihat Sebanyak : 42 Kali

KARAWANG, (PR).-  Dalam waktu dekat sebanyak 600 keluarga di sekitar Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Jalupang bakal menikmati gas gratis. Mereka bisa memasak dan menyalakan listrik dengan menggunakan gas metana yang berasal dari timbunan sampah Jalupang.

“Kami telah melakukan uji coba, ternyata tumpukan sampah di Jalupang mampu menghasilkan gas metana yang cukup kuat,” ujar Kepala Bidang Kebersihan,  Pengelolaan Sampah dan Limbah pada Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Karawang, Nevi Fatimah, Minggu 12 November 2017.

Menurutnya, DLHK Karawang telah menggandeng tenaga ahli dari Kabupaten Malang, Jawa Timur, untuk menggali potensi gas metana dari TPSA Jalupang. Hanya mengandalkan peralatan sederhana saja ternyata gas metana ke luar dengan kuat bahkan mampu menyalakan obor raksaksa, kompor, dan menghasilkan tenaga listrik.

Yang menggembirakan, lanjut Nevi, para tenaga ahli tersebut menyatakan kandungan gas metana dari tumpukan sampah Jalupang mampu memenuhi kebutuhan gas untuk 600 keluarga di sekitar TPSA. Oleh karena itu, DLHK siap mengembangkan potensi itu pada 2018 mendatang.

Nevi tidak menampik uji coba yang dilakukan DLHK awalnya untuk meningkatkan poin penilaian peraihan piala Adipura. Selain itu, untuk mengurangi dampak bau yang selama ini dikeluhkan masyarakat sekitar.

Namun, setelah mengetahui potensi luar biasa dari tumpukan sampah itu, DLHK berniat memanfaatkan kandungan gas metana untuk kemaslahatan warga sekitar. “Kami menyadari, selama ini warga sekitar TPSA sering menghirup udara tidak sedap dari tumpukan sampah itu. Kini, mereka layak mendapatkan kompensasi berupa pemberian gas metana secara gratis,” ungkapnya.

Dikatakan, demi menggali potensi tersebut, DLHK telah meminta anggaran sebesar Rp 3 miliar kepada Pemerintah Kabupaten Karawang tahun 2018 nanti. Meski begitu, uang sebanyak itu tidak semuanya dialokasikan untuk pengembangan teknologi penggalian gas metana.

“Sebagian besar untuk membeli lahan perluasanTPSA Jalupang. Terus terang, saat ini TPSA Jalupang sudah over load,” kata Nevi.

Disebutkan juga, guna mempercepat proses munculnya gas metana, tumpukan sampah harus ditutup dengan tanah merah. Dengan cara itu sampah bisa lebih cepat membusuk dan akhirnya menimbulkan gas metana yang kuat.

Anggaran terbatas

Karena anggaran terbatas, sambung Nevi. penutupan tidak menggunakan tanah merah tetapi diganti dengan terpal. “Hasilnya cukup memuaskan, selain sampah cepat panas dan mudah membusuk, penutupan dengan terpal pun mampu meredam bau busuk yang ke luar dari tumpukan sampah itu,” papar Nevi.

Dijelaskan, sebenarnya gas metana hanya dihasilkan oleh sampah organik berupa sisa-sisa sayuran, kulit buah, atau dedaunan. Namun, memilah sampah organik dengan unorganik sangat sulit dilakukan di TPSA.

Akhirnya, sampah tersebut tetap tercampur saat potensi gas metananya digali.

Nevi berharap pemisahan sampah organik dengan unorganik bisa dilakukan sejak dari pembuang pertama yakni tingkat rumah tangga. Dengan demikian, penggalian gas metana dari sampah tersebut bisa lebih mudah dilakukan.

Disebutkan juga, penggunaan gas metana untuk keperluan rumah tangga, jauh lebih aman ketimbang gas elpiji. Sebab, tekanan gas metana tidak seperti gas elpiji, sehingga tidak mudah meledak.

Menurut Nevi, saat pertama katup dibuka, memang tercium bau gas. Namun, setelah dinyalakan, bau itu hilang dengan sendirinya.

Dijelaskan pula, saat ini luas TPSA Jalupang yang terletak di Kecamatan Kota Baru itu mencapai 7 hektare. Karena kondisinya sudah melebihi kapasitas, DLHK berencana membeli lahan tambahan seluas 1 hektare.

“TPSA Jalupang menampung sampah dari seluruh wilayah Karawang,” pungkasnya.