Proyeksi Penduduk 2015-2045, Pemerintah Daerah Harus Responsif
Di Posting Oleh : bappeda jabar humas, Tanggal : 27 Aug 2018 09:58 , Dilihat Sebanyak : 54 Kali

JAKARTA, HUMAS JABAR — Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla meluncurkan Buku bertajuk “Proyeksi Penduduk Indonesia Tahun 2015-2045”, di Istana Wakil Presiden RI, Jl. Kebon Sirih Jakarta Pusat, Jumat (24/08/2018).

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat Iwa Karniwa hadir dan menerima secara simbolis buku yang dibuat dalam rangka memenuhi kebutuhan data untuk penyusunan rencana pembangunan baik di tingkat nasional maupun di daerah.

Pada Peluncuran Proyeksi Penduduk tahun 2015-2045, Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK) mengatakan, bahwa jumlah penduduk Indonesia saat ini lebih dari 260 juta penduduk.

Maka Pemerintah, sebut JK, tengah memproyeksikan bahwa pada 100 tahun Indonesia kelak, melonjaknya jumlah penduduk harus diiringi dengan peningkatan produktifitas.

“Proyeksi keadaan penduduk kita saat HUT RI ke 100, jumlah penduduk bukan beban tapi keuntungan,” kata JK.

“Negara maju dan berkembang, saat ini semakin maju juga seiring melonjaknya jumlah penduduk,” katanya lagi.

Maka pesan JK untuk Pemerintah Daerah, yakni supaya responsif menghadapi bonus demografi. Diikuti dengan peningkatan produksi dan fasilitas pelayanan kepada masyarakat.

“Meliputi peningkatan produksi pangan, infrastruktur jalan dan perumahan, rumah sakit, sekolah, industri, UMKM, lapangan kerja dan lainnya,” katanya.

Jadi penting, konsistensi dalam upaya peningkatan skill dan kompetensi masyarakat yang produktif di berbagai bidang.

Sementara terkait Buku, “Proyeksi Penduduk Indonesia Tahun 2015-2045” sendiri, Sekda Jabar Iwa Karniwa mengatakan, buku yang diterimanya berisi proyeksi penduduk Indonesia yang mencakup pertumbuhan penduduk, perubahan struktur umur, dan distribusi penduduk menurut kelompok umur, jenis kelamin, dan provinsi mulai 2015 hingga 2045.

Buku ini disusun oleh Badan Perencanaan Nasional (Bappenas) dan Badan Pusat Statistik (BPS), dengan dukungan Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Selain itu, ada pula pakar demografi, antara lain dari Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Padjadjaran.

“Adapun data dasar perhitungan proyeksi ini adalah hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015,” sebut Iwa.

Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro menyebut, berdasarkan buku “Proyeksi Penduduk Indonesia Tahun 2015-2045”, bahwa di berbagai belahan dunia, proporsi usia produktif itu bervariasi terhadap tingkat ekonomi wilayah.

Saat ini, proporsi penduduk usia muda di negara maju, turun. Sementara itu, di negara berkembang termasuk di Indonesia, penduduk usia muda bergerak menuju puncaknya pada tahun 2030 -an.

“Pada periode tersebut, proporsi penduduk usia muda di Indonesia akan jauh lebih tinggi dari rata-rata negara Asia Tenggara,” jelas Bambang.

Bambang menyebut, dalam buku Proyeksi Penduduk Indonesia 2015-2045, asumsi-asumsi dibentuk berdasarkan pada data Sensus Penduduk dan SUPAS.

“Berdasarkan hasil proyeksi, jumlah penduduk Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai 282 juta jiwa,” ujarnya.

Masih di dalam Buku Proyeksi Penduduk Indonesia 2015-2045, penduduk Indonesia pada 2045 diperkirakan berkisar antara 311 juta jiwa, sampai dengan 318,9 juta jiwa.

Bambang juga menyebut, berdasarkan SUPAS 2015, Indonesia mengalami perubahan struktur penduduk yang cukup cepat. Dimana Tingkat Fertility Rate (TFR) adalah sebesar 2,28 dengan variasi yang cukup tinggi antar provinsi.

“Beberapa provinsi, telah memiliki TFR di bawah 2 dan mengalami transisi cukup cepat. Namun, sebagian provinsi, terutama dari Indonesia bagian timur, TFR tercatat masih jauh di atas,” katanya.

Maka, tutur Bambang, akan ada dua skenario. Skenario pertama, apabila jumlah anak dibiarkan terus menurun dan TFR mencapai di bawah 2, maka total penduduk sekitar 311 juta jiwa.

Skenario kedua, apabila TFR dapat dipertahankan di kisaran 2, jumlah penduduk diperkirakan berkisar pada 318,9 Juta.

“Pada saat itu, persentase penduduk lansia atau 60 tahun keatas, akan sebesar 19,85% sehingga Indonesia telah memasuki era baru, ageing population,” jelasnya.