Petani dan Pengolah Kopi Jabar Mulai Sejahtera
Di Posting Oleh : bappeda jabar humas, Tanggal : 13 Mar 2018 08:34 , Dilihat Sebanyak : 70 Kali

BANDUNG, INILAH KORAN — Sejumlah petani kopi saat ini mulai merasakan manisnya bercocok tanam kopi. Seiring meningkatnya permintaan, taraf kehidupan petani pun mulai terangkat.

“Beberapa tahun belakangan ini harga kopi mulai meningkat. Tahun lalu, konsumsi kopi di Tanah Air ini naik 4,6%. Kesejahteraan petani pun sekarang mulai terangkat,” kata petani dan pengolah kopi Gunung Puntang Ayi Sutedja kepada INILAH, Senin (12/3).

Sebelumnya, kopi gelondongan yang dipanen hanya dibanderol Rp3-5 ribu/kg. Kini, buah kopi yang baru diambil dari pohon itu dipatok seharga Rp8.000/kg. Ayi menyebutkan harga jual itu semakin melonjak jika diolah menjadi green bean. Harganya mencapai Rp80-90 ribu/kg. Untuk itu, kini para petani cenderung mengolah kopi agar mendapatkan nilai tambah yang optimal.

Menurutnya, di Kelompok Tani Murbeng Puntang terdapat sekitar 100 anggota. Mereka memiliki lahan seluas 200 ha di selatan Kabupaten Bandung. Saat ini, kelompok tani tersebut tak hanya fokus pada penanaman saja. Mereka mulai memberikan perhatian pada pengolahan biji kopi.

“Saya saja, setahun bisa menghasilkan 3 kuintal kopi speciality. Harganya bisa mencapai Rp500 ribuan/kg. Saya menjual langsung ke end-user. Itu nggak ekspor, permintaan pasar domestik dari berbagai daerah seperti Jakarta, Bali, dan Kalimantan sekarang masih belum terpenuhi,” ujarnya.

Terkait dukungan pemerintahan daerah, Ayi menyebutkan Dinas Perkebunan Jabar kerap memberikan pelatihan. Materi yang diberikan tak hanya berkutat pada budidaya. Namun, hal terkait pascapanen pun diberikan agar petani mendapatkan added value dari bercocok tanam kopi.

“Saat ini juga banyak investor yang tertarik akan menanamkan modalnya di komoditas kopi. Tapi, itu hanya sebatas teman yang berkenalan melalui ponsel,” tambahnya.

Seperti diketahui, pada 2018 ini Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jabar memberikan perhatian khusus pada komoditas kopi. Kepala Grup KPwBI Jabar Ismet Inono mengatakan, sebagai langkah awal pihaknya menggandeng Institut Pertanian Bogor (IPB). Ini dilakukan untuk mengidentifikasi terkait produktivitas kopi asal Tatar Priangan.

“Kita mendorong agar komoditas kopi ini berorientasi ekspor dan bisa menjadi sumber petumbuhan ekonomi baru bagi Jabar. Apalagi, kopi Jabar ini dikenal memiliki varian terbanyak se-Indonesia,” kata Ismet.

Menurutnya, riset yang dilakukan IPB itu akan berlangsung selama dua bulan ke depan. Penelitian tersebut diakuinya tak hanya berkutat di sektor hulu. Namun, cakupannya meluas hingga sektor hilir.

Selain petani, yang terlibat dalam riset kopi ini di antaranya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), lembaga pendamping/pembjna, dan pemerintahan yang memiliki otoritas.

“Pengembangan kopi ini pun nantinya di-link-kan dengan industri pariwisata. Hasil riset IPB itu nantinya di-FGD-kan untuk mencari formula yang cocok dikembangkan,” tambahnya.

Dia menuturkan, untuk 2018 ini sejalan dengan arahan Presiden RI Joko Widodo agar pariwisata dapat menjadi ujung tombak perekonomian baru. Selain itu, Gubenur Jabar Ahmad Heryawan mengarahkan agar kopi merupakan komoditi strategis yang membutuhkan perhatian. West Java Incorporated (WJI) mengusulkan dua tema utama investasi Jabar pada 2018 yaitu pariwisata dan infrastruktur pendukungnya serta pengembangan komoditas kopi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, areal perkebunan kopi di Jabar ini terhitung seluas 32.228 ha yang tergolong kebun rakyat dan 258 ha milik swasta. Dari lahan itu, sebanyak 17.151 ton biji kopi dihasilkan perkebunan rakyat. Sementara, kebun swasta menghasilkan 5.403 ton biji kopi.

Dari laman situs Dinas Perkebunan Jabar, kegiatan usaha perkebunan di provinsi ini memiliki arti penting dalam pembentukan berbagai realitas ekonomi dan sosial masyarakat. Provinsi penyangga ibu kota negara ini dikaruniai kesuburan lahan yang menyebabkan tumbuhnya aneka macam komoditas perkebunan yang bernilai ekonomis tinggi.

Pada 2016, total luas lahan perkebunan Jabar tercatat sebesar 484.234 ha. Dari luas lahan tersebut berdasarkan penguasaannya terbagi atas perkebunan rakyat sebesar 362,199 ha atau 74,80%, perkebunan besar swasta sebesar 54.174 ha (11,19%), dan perkebunan besar negara sebesar 67.861 ha (14,01%).

Keseluruhan luas lahan perkebunan tersebut berdasarkan data statistik tersebar di 21 wilayah kabupaten/kota se-Jabar. Yakni, Tasikmalaya, Sukabumi, Garut, Cianjur, Ciamis, Bandung, Bandung Barat, Subang, Bogor, Purwakarta, Sumedang, Cirebon, Indramayu, Kuningan, Majalengka, Bekasi, Karawang, Pangandaran, Kota Sukabumi, Kota Tasikmalaya, dan Kota Banjar.