Pemuda Pelopor Jawa Barat Raih Nugra Jasadarma Pustaloka
Di Posting Oleh : bappeda jabar humas, Tanggal : 10 Sep 2018 09:01 , Dilihat Sebanyak : 54 Kali

CIREBON, PIKIRAN RAKYAT — Pemuda pelopor Jabar asal Kabupaten Cirebon, Warkina meraih Nugra Jasadarma Pustaloka, dari Perpustakaan Nasional Kamis 6 September 2018.

Penghargaan tertinggi kepada para insan yang berkontribusi aktif dalam mengembangkan perpustakaan dan menumbuhkan kegemaran membaca di Indonesia, diserahkan saat acara Gemilang Perpusnas Tahun 2018 di ICC, Kemayoran, Jakarta Pusat Kamis lalu. Warkina menjadi satu-satunya wakil dari Jawa Barat yang mendapat penghargaan, untuk kategori birokrat, dari tujuh kategori penerima penghargaan yakni bikrokrat, perorangan, lembaga, masyarakat, pers/media massa, jurnalis/penulis, dan lifetime achievement.

Pada kesempatan yang sama, penghargaan juga diberikan kepada juara sejumlah lomba. Meski di satu merasa bahagia karena menerima penghargaan yang disebutnya sebagai semacam pengakuan, baginya penghargaan sesungguhnya adalah, dari warga, ketika warga mau berbondong-bondong membaca buku yang ditawarkannya.

“Bohonglah kalau saya tidak senang dengan penghargaan yang saya dapatkan dari Perpustakaan Nasional. Namun saya akan sangat senang dan bahagia, kalau warga berbondong-bondong membaca buku yang saya tawarkan baik di warung baca, maupun perpustakaan keliling yang kami kelola, “ katanya Minggu 9 September 2018.

Selama lebih dari 9 tahun guru honor SMPN 2 Suranenggala Kecamatan Suranenggala Kabupaten Cirebon, berjuang tanpa lelah dan pamrih, untuk meningkatkan minat baca warga sekitarnya, yang sangat rendah. “Rendahnya minat baca bukan hanya di kalangan masyarakat, bahkan di kalangan pelajar juga, “ ungkap peraih juara Pelopor Pemberdayaan Masyarakat Bidang Pendidikan tingkat Jabar 2017 lalu.

Di tengah keterbatasan materi yang ia miliki, karena hanya guru honorer, Warkina malah sibuk memikirkan strategi dan cara agar masyarakat sekitarnya gemar membaca. Bapak satu anak ini berkeyakinan, dengan buku, bisa membuka cakrawala dan pandangan hidup serta pola berpikir masyarakat. Warkin meyakini, membaca bisa mengarahkan ke berbagai pencapaian, bukan hanya memberantas kebodohan dan kemiskinan, tetapi juga menggapai cita-cita, menambah wawasan dan pengetahuan serta ilmu, bahkan mendapatkan kebahagiaan.

Warkina kemudian memulainya pada 2009. Di rumahnya, dia mulai membuka perpustakaan dan menyediakan buku-buku pribadinya untuk dibaca oleh tetangga-tetangganya. Awalnya ajakan Warkina untuk membaca di rumahnya tidak dilirik tetangganya. Selain dinilai sebagai kegiatan membuang waktu, membaca juga dianggap sia-sia, karena tidak menghasilkan uang. Namun Warkina tetap setia memajang buku-bukunya agar bisa dibaca tetangganya. Lama kelamaan, tetangga-tetangganya tertarik untuk membaca buku-bukunya.

Gerakan Sadar Membaca

Pada 2011, ayah satu anak itu semakin memantapkan tekadnya untuk membuat Gerakan Sadar Membaca. Tak hanya membuka perpustakaan atau layanan masyarakat baca “Pado Maco” di rumahnya dan membuka warung baca “Pado Maco” (ayo membaca) bahkan menerapkan sistem jemput bola. Tanpa kenal lelah, seusai mengajar dia berkeliling desa dan mendatangi tempat-tempat keramaian seperti misalnya pasar malam, atau tempat hajatan untuk mendekatkan buku kepada masyarakat.

Agar bisa membawa lebih banyak buku, Warkina kembali harus mengorbankan keinginannya untuk memiliki rumah. Dengan uang Rp 12 juta, hasil penjualan tabungan perhiasan milik istrinya ia membeli mobil tua. Mobil itu  betul-betul difungsikan sebagai perpustakaan, dengan menyulap mobil tuanya menjadi perpustakaan keliling.

Untuk membiayai operasional perpustakaan keliling dan membeli buku-buku baru, Warkina  mencari pekerjaan sampingan. Dari hanya beberapa buah buku koleksi pribadi, saat ini Warkina memiliki koleksi buku lebih dari 800 buah untuk perpustakaannya.

Kecintaan Terhadap Lingkungan

Perjuangan Warkina pun mendapat sambutan yang positif, baik dari masyarakat maupun pemerintah desa dan kecamatan. Saat ini, dia juga dibantu sejumlah relawan yang membantu kegiatannya. Warkina juga didatangi pemuda putus sekolah yang berharap bisa melanjutkan pendidikan mereka. Akhirnya Warkina mendirikan program Paket A, B dan C, di Desa Surakarta.

Tak hanya di bidang pendidikan, Warkina juga berusaha menanamkan kecintaan terhadap lingkungan kepada siapapun. Salah satunya dengan meminta orangtua siswa di PAUD-nya untuk membayar sekolah dengan sampah dari rumah warga. Saat ini, kegiatan yang semula hanya dilakukan di desanya, bahkan sudah meluas hingga ke sembilan desa lainnya. Dia pun tak pernah berhenti mengorbankan segala miliknya.

Sejumlah alat teknologi terapan sederhana berhasil dibuat Warkina dari kegemarannya membaca buku. Diantaranya yakni alat pencacah dan pembakar sampah. (Ani Nunung Aryani)