Museum Harus Dekat dengan Masyarakat
Di Posting Oleh : HUMAS BAPPEDA JABAR, Tanggal : 31 Aug 2016 10:08 , Dilihat Sebanyak : 74 Kali

Inilah, Bandung.- Kehadiran museum di tengah masyarakat sangat penting. Museum memegang peranan sebagai sarana pendidikan warga. Namun banyak dari mereka yang masih terasa jauh dengan museum karena peraturannya yang ketat.

Sudah lazim bagi warga yang datang ke museum akan merasa canggung dan kaku ketika melihat koleksi-koleksi di ruangan tata pamer. Pengunjung pun terkadang tidak paham latar belakang benda koleksi yang ada di museum.

Hal ini disadari Direktorat Pelestarian Cagar Budaya (PCB) dan Museum Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kepala Direktorat PCB dan Museum, Harri Widianto mengatakan, kehadiran museum memang harus dekat dengan masyarakat.

Pihaknya sudah beberapa kali menggelar pameran museum di mal-mal terkemuka di Jakarta dengan tujuan agar interaksi masyarakat dengan museum semakin kuat.

“Di sana masyarakat bisa berinteraksi dengan koleksi. Nanti akan ada teater, praktik lomba lukisan tangan gua, bahkan warga bisa menyentuh koleksi museum yang dijamin tidak akan menyebabkan kerusakan,” kata Harri kepada INILAH saat ditemui seusai sosialisasi PP Nomor 66/2015 Tentang Museum di Hotel Savoy Homann, Kota Bandung, Selasa (30/8/2016).

Harri menjelaskan, interaksi antara warga dengan koleksi museum sangat penting karena akan memberikan sensasi tersendiri bagi mereka. Sehingga diharapkan setelah pulang dari museum warga akan menceritakan pengalamannya ke orang lain dan membuat masyarakat luas lebih tertarik untuk datang ke museum.

Selain itu, pengalaman warga juga akan menjadi masukan bagi pemerintah untuk terus memajukan dan mendekatkan museum. Dikatakan Hari, akses warga terhadap beberapa koleksi tertentu jangan dibatasi. Supaya nanti akan tumbuh rasa memiliki di lubuk hati warga terhadap museum.

“Di Museum Sangiran, Solo, saya memajang gajah purba yang berusia 800 ribu tahun dengan tulisan ‘Touch Me’ dan juga ada jalan ceritanya. Supaya warga tahu bagaimana rasanya menyentuh gajah purba dan punya sesuatu untuk diceritakan,” ujar arkeolog lulusan Universitas Gajah Mada itu.

Maka dari itu, sambung Harri, Direktorat PCB dan Museum Kemdikbud memiliki dua program khusus terkait museum. Yakni modernisasi museum dan revitalisasi museum-museum jadul yang masih dikelola secara tradisional.

Pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp150 miliar di tahun ini agar museum-museum jadul direvitalisasi sehingga berubah menjadi museum yang modern dan mampu menghadirkan interaksi dengan para pengunjungnya.

“Setiap museum yang direvitalisasi akan diberikan bantuan dana sebesar Rp1-2 miliar. Meskipun sekarang ada pemotongan anggaran dari Kemenkeu, kami tetap mempertahankan anggaran museum,” ujar Harri.

Sementara pengamat museum, Gatot Ghautama, mendorong langkah pemerintah merevitalisasi museum-museum di Indonesia. Dia menekankan museum harus mampu mengolaborasikan koleksi-koleksinya dengan teknologi modern saat ini.

Dia mengimbau agar museum mengalokasikan dana yang besar untuk pos promosi dan hubungan masyarakat agar masyarakat dapat semakin dekat dan minatnya semakin kuat untuk datang ke museum.

“Di Kota Bandung sudah ada museum yang interaksinya dengan warga sudah bagus, yaitu Museum Konferensi Asia Afrika,” kata Gatot.

Museum juga harus memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat tentang bagaimana sejarah dari sebuah peristiwa terjadi, terutama yang terkait dengan zaman megalitik. Sehingga masyarakat menjadi paham dan fungsi museum sebagai sarana pendidikan pun berjalan dengan baik.

“Pemerintah harus menjadi yang pertama kali dalam merangkul masyarakat agar diketahui apa yang mereka harapkan dari museum. Saya juga saran agar museum dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan,” pungkasnya.