Kiat Bangun Ruang Aman Bagi Anak Ala Netty 
Di Posting Oleh : bappeda jabar humas, Tanggal : 11 Apr 2017 10:56 , Dilihat Sebanyak : 19 Kali
Dokumentasi Humas Jabar

CIAMIS – Setiap hari, 300 perempuan dan anak jadi korban kejahatan seksual. Tentunya menjadi tugas para orangtua untuk melindungi anak-anak yang rentan jadi korban kekerasan, baik fisik maupun seksual. Apalagi dewasa ini sedang marak terjadinya kasus-kasus penculikan anak.

Pada acara Parents Gathering dengan tema Mendidik Anak Dengan Cinta di Gedung Islamic Center Jl.Iwa Kusuma Sumantri Kab. Ciamis, Senin (3/4/2017), Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Jawa Barat Netty Heryawan mengatakan, tingginya angka kejahatan pada anak menjadi bukti bahwa ruang aman bagi anak-anak semakin terbatas dan terdesak.

Hal tersebut, menurut Netty, semakin diperparah dengan tidak siapnya kebanyakan orang tua untuk menjadi orang tua, terutama mereka yang menjadi korban pernikahan dini (child marriage). Mereka tidak mengetahui nilai seorang anak, sehingga memiliki persepsi yang buruk tentang anak. Selain itu, sebagian besar orang tua sekarang lebih mengutamakan hukuman (punishment), sehingga anak cenderung takut pada orang tua.

Menurut Netty, tuntutan orang tua tersebut memunculkan fenomena BLAST (Bored, Lonely, Angry, Stressed, Tired) pada anak. Ini akan menyebabkan anak kehilangan kepercayaan pada orangtua dan keluarganya, kemudian mencari kenyamanan lain di luar rumah, menjadi tidak berprestasi, dan terpengaruh oleh arus zaman, seperti narkoba dan pergaulan bebas.

Sependapat dengan Netty, Bupati Ciamis Iing Syam Arifin pun berujar, orangtua harus dibekali pemahaman yang detail tentang perlindungan anak, terutama bagi para ibu, karena menurutnya ibu lah yang paling banyak diandalkan oleh anak.

“Perlindungan anak sebagian besar ada di tangan ibu, termasuk pendidikannya,” pungkas Iing.

“Kehidupan manusia mulai dari lahir hingga wafat adalah perjuangan yang panjang. Tidak boleh sia-sia,” katanya lagi.

Untuk menghindari dampak dari fenomena BLAST, Netty anjurkan agar para orangtua dapat membangun ruang aman di keluarganya. Caranya yaitu dengan menjadi orangtua yang kompak dan harmonis, menyayangi sepenuh hati, dan banyaj mendengar. “Kita punya dua telinga dan satu mulut, agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara,” kata Netty.

Orangtua juga harus menjadi sahabat bagi anak dan mengikuti setiap tumbuh kembang anak, terutama saat anak mengalami menstruasi atau mimpi basah. “Jangan lantas memberi nama yang benar pada alat reproduksi saja tidak bisa, apalagi menjelaskan perubahan hormon yang pasti dialami anak yang beranjak dewasa,” paparnya.

Terakhir Netty menghimbau agar orangtua harus senantiasa melakukan pengawasan pada anak, membimbing anak secara kreatif dan juga mau belajar, serta sempurnakan usaha dengan doa. (Humas Jabar)