Katel, Sayur Khas Majalengka Cocok untuk Sambal Terasi
Di Posting Oleh : HUMAS BAPPEDA JABAR, Tanggal : 19 Jul 2016 17:58 , Dilihat Sebanyak : 1369 Kali

MAJALENGKA,(PR).- Katel adalah salah satu jenis sayuran yang mungkin khas hanya ada di Majalengka. Di beberapa daerah di Majalengka katel dibudidayakan secara khusus oleh sejumlah warga karena pasarnya yang cukup menjanjikan.

Katel berasal dari kacang kedelai yang baru tumbuh sebelum muncul pucuk. Itulah yang dipetik dan bisa dimakan dengan cara dimasak dengan campuran tahu mentah atau bisa juga dimakan dengan cara dilawar (katel dimasukan pada sambal terasi bercampur kencur). Paduan makannya bisa denga ikan asin atau sayur asam.

Di Majalengka katel dibudidayakan secara khusus oleh sejumlah warga Blok Pataking, Kelurahan Munjul, Kecamatan Majalengka dan Warga Blok Pasirmuncang Tonggoh, Desa Pasirmuncang, Kecamatan Panyingkiran, Kabupaten Majalengka. Di dua daerah ini banyak warga yang mata pencahariannya berasal dari budidaya katel dan menjualnya ke sejumlah pasar di Majalengka dan Kadipaten.

Iloh misalnya, dia mengaku sudah puluhan tahun menjadi penjual katel yang katelnya dibudidayakan sendiri di pinggir sungai Cijurey yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Ada beberapa petak lahan yang dia manfaatkan untuk menyemai katel agar setiap hari bisa menjual katel ke pasar.

Setiap hari dia mampu menjual hingga puluhan liter katel dengan harga setiap liternya mencapai Rp 15.000 per liter. Setiap pagi Iloh menyabit katel, kemudian dia bersihkan dan dipilah agar tangkai dan pucuk katelnya terpisah.

“Kalau memilah katel dari tangkainya saya mengerjakan kembali banyak orang dengan upah setiap liter seharga Rp 500. Setelah dipilah besoknya sekitar pukul 05.00 saya baru pergi ke pasar untuk menjual katel,” ungkap Iloh.

Hal yang sama juga dilakukan pembudidaya katel lainnya Atit warga Blok Pataking, setiap hari ia mampu menjual katel hingga 50 liter. Katel-katel tersebut dia kemas dengan plastik dan sebagian dimasukan ke kios-kios sayuran di pasar, sebagian lagi diecerkan sendiri.

“Penggemar katel banyak, malah ada beberapa konsumen yang sengaja membeli untuk oleh-oleh ke luar kota,” ungkap Atit.

Sementara itu sejumlah ibu-ibu dan anak kecil banyak yang mengisi waktu luangnya dengan cara bekerja memetik katel, dari pekerjaan tersebut setiap orang bisa memperoleh upah sebesar Rp 20.000 hingga 30.000 per hari.

Ijah dan Ruminah misalnya mereka setiap hari mendapat upah sekitar Rp 20.000 per hari, atau terkadang bila di rumahnya tidka banyak pekerjaan upah bisa mencapai Rp 30.000 per hari. “Lumayan saja untuk menambah belanja dapur dari pada menganggur di rumah,” kata Ijah. (Tati Purnawati)