Jawa Barat Siap Menggunakan Aspal Buton
Di Posting Oleh : HUMAS BAPPEDA JABAR, Tanggal : 02 Feb 2015 03:03 , Dilihat Sebanyak : 43 Kali

BANDUNG – Sesuai instruksi dari Pemerintah Pusat, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, siap menggunakan aspal buton untuk ruas-ruas jalan di Provinsi Jabar, karena aspal buton memiliki kualitas yang jauh lebih baik dibanding aspal minyak, selain itu aspal minyak adalah impor.

“Kita siap tapi kan harus ada pengetahuan dimana produsen aspal tersebut, di mana kita bisa beli,” katanya, Minggu (1/2/2015).

Heryawan menjelaskan bahwa jelasnya pasokan aspal buton dari para penjualnya ini penting, dikarenakan Jabar adalah daerah yang membutuhkan aspal dengan jumlah signifikan di setiap tahun.

“Jika pasokan sudah jelas maka pihaknya bisa mengarahkan pemenang tender untuk mengambil pasokan dari Buton,” katanya.

Heryawan juga mengakui selain menggunakan aspal Buton pihaknya juga siap menggunakan aspal yang bisa digunakan di musim hujan yang merupakan produk dari Puslitbang Jalan PU.

Menurutnya, produk dari Puslitbang bisa digunakan untuk pemeliharaan jalan berskala kecil. “Aspal buatan Puslitbang itu kita tunggu-tunggu,” ucapnya.

Kedepannya, kata dia, jika aspal Buton belum masuk ke e-katalog, Pemprov Jabar akan memasukan jenis aspal ini ke dalam spesifikasi lelang Bina Marga. Jika ini sudah dimasukan dalam spesifikasi, pihaknya tinggal menyerahkan proses beli aspal dari pengusaha ke pengusaha. “Urusan pengusaha dengan pengusaha aspalnya harus punya aspal buton kan selesai,” ujarnya.

Namun pihaknya juga mengusulkan selain Pemprov Jabar, Dirjen Bina Marga juga menggunakan aspal Buton untuk ruas milik pusat seperti jalur Cirebon-Sumedang-Bandung agar komitmen pusat juga terlihat.

“Aspal ini tahun depan saya pakai seluruhnya untuk Jabar atau sebagian nggak masalah,tapi kita sepakat pakai aspal Buton,” tuturnya.

Sementara itu Kepala Balitbang PU Pera Waskito Pandu mengatakan selisih harga antara aspal Buton dengan aspal minyak tidak berbeda jauh berada di kisaran Rp11.000 per kilogram. Namun jika pemerintah daerah memakai ini secara penuh, produksi besar diprediksi akan menekan harga aspal Buton lebih murah.

Namun lanjut dia jika dilihat dari kualitas dan umur aspal, pihaknya berani membandingkan aspal Buton jauh lebih baik dibanding aspal minyak. Selain itu kapasitas produksi aspal Buton ini tidak terbatas karena jumlah produksi berskala besar bisa dihasilkan dari Pulau Buton, Sulawesi Tenggara itu.

Sebagai informasi saat ini Buton Aspal Indonesia (BAI) sudah memiliki kapasitas 50.000 ton/tahun, sementara sejumlah perusahaan lain kapasitasnya baru mencapai 30.000-40.000 ton.

Sebelumnya Menko Kemaritiman Dwisuryo Indroyono Soesilo mengatakan keputusan daerah memakai aspal buton merupakan instruksi Presiden Joko Widodo dalam Munsrenbang Nasional akhir Desember 2014 lalu.

Presiden menurutnya meminta agar pemerintah daerah semaksimal menggunakan produk dalam negeri, salah satunya pemakaian aspal Buton. “Itu sudah kebijakan dari Pak Presiden,” katanya di Bandung, Jumat (30/1/2015) lalu.

Menurutnya penggunaan aspal buton akan mengurangi kertegantungan Indonesia yang tinggi pada aspal minyak yang sampai saat ini masih import. Saat ini, import aspal minyak yang dilakukan pengusaha mencapai 1,2 juta ton.

“Jadi kenapa harus aspal Buton karena import aspal minyak dari luar masih sangat tinggi. Dampaknya ada penghematan devisa,” katanya.

Menurutnya selain produk dalam negeri, dari hasil uji coba pada aspal Buton hasilnya sangat bagus. Pengalaman Dwisuryo saat masih di BPPT menunjukan jika aspal yang dipakai untuk jalan Padalarang-Cimahi, Jawa Barat sejak tahun 1960-an kondisinya masih baik. “Kualitasnya bagus,” ujarnya.

Agar daerah yakin dengan pemakaian aspal ini, Dwisuryo juga meminta Puslitbang Jalan Kementerian PU Pera untuk mendorong sosialisasi produk Asbuton dan aspal cepat mantap yang dikembangkan Puslitbang. Menurutnya agar produk ini bisa diambil pasar maka harus ada daerah yang jadi sampel penerapan produk. “Ujicoba saja di Jabar, nanti seluruh stakeholder akan kita undang melihat hasilnya,” katanya.

Dwisuryo juga menuturkan para pengusaha aspal Buton sendiri sudah siap untuk memasok, namun karena ketergantungan pada aspal minyak masih tinggi, produk itu tak banyak terserap pasar. “Sekali lagi bagaimana mengurangi import, yakni dengan menggunakan aspal buton sehingga devisa bisa dihemat,” tegasnya.