Industri Menjamur, Ridwan Kamil: Rakyat Wajib Makmur
Di Posting Oleh : bappeda jabar humas, Tanggal : 25 Feb 2019 08:23 , Dilihat Sebanyak : 71 Kali

SUBANG, HUMAS JABAR РInvestasi, menjadi syarat mutlak majunya suatu wilayah. Pun Industrialisasi harus jadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat. Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, mengatakan hal tersebut pada agenda Groundbreaking pembangunan pabrik kaca, PT. Bintang Jinjing Glass (BJG), di Jl. Raya Cipeundeuy- Pabuaran KM 3,5 Kec. Cipeundeuy Kab. Subang, Sabtu (23/2/19).

“Investasi ini syarat kalau wilayah mau maju. Industri ini melompat dengan memperkerjakan warga Subang jadi utama. Prioritas harus warga Subang. Karena bagaimanapun kemajuan ekonomi harus bereng dengan kemajuan warga,” kata Emil, panggilan Gubernur.

Emil mencontohkan, ada daerah di Jawa Barat yang memiliki tingkat pengangguran tinggi, padahal berbagai bidang Industri banyak berlokasi di sana. Daerah tersebut menjadi salah satu tujuan warga daerah mencari pekerjaan. Hanya saja, warga pendatang hadir dan bekerja namun pekerja lokal justru tidak dipekerjakan. Sehingga Gubernur tak ingin, ada industri maju tetapi rakyatnya ketinggalan.

Maka Gubernur Emil berpesan kepada Bupati Subang, supaya menyiapkan masyarakatnya menghadapi industrialisasi. Diantaranya dengan memperbanyak sekolah vokasional SMK, yang relevan dengan kebutuhan industri kekinian.

Ia pun tengah menyiapkan kebijakan “school/ teaching factory,” sebagai model pembelajaran berbasis produksi/ jasa yang mengacu pada standar dan prosedur yang berlaku di industri dan dilaksanakan dalam suasana seperti yang terjadi di industri.

“Jadi Bapak (Bupati) harus punya ruangan agar murid jadi skillfull. Atau secepatnya bapak bikin kursus, suatu hari pabriknya hadir yang punya sertifikat bisa diprioritaskan untuk masuk,” tambah Gubernur.

“Jadi kalau ternyata warga lokalnya skillnya belum memungkinkan, bisa ditraining dari sekarang, mumpung pabriknya belum jadi. Saya ga mau seperti di daerah lain terulang di Subang,” kata Emil.

Di samping itu, Emil juga menitipkan, agar pelaku industri juga memperhatikan lingkungan agar tetap lestari.

“Kami selalu terbuka dengan investasi, namun alam lingkungan harus terus lestari,” katanya.

Jawa Barat sendiri, lanjut Emil, merupakan provinsi paling disukai investor. Dari 100 persen industri di Indonesia, hampir 60 persennya berlokasi di Jawa Barat.

“Para investor kenal Jawa Barat orangnya ramah, skillful, indeks infrastrukturnya paling baik di Provinsi ini, juga dekat Jakarta dimana para pengambil keputusan bisa berkoordinasi dengan cepat,” jelasnya.

Gubernur mengungkap, bahwa Jawa Barat yang maju dan futuristik, akan ada di Kawasan segitiga Cirebon, Patimban, dan Kertajati Majalengka yang disebut Segitiga Rebana.

“Disitu ada bandara besar, ada pelabuhan kapal Patimban, yang kurang lebih sebesar Tanjung Priok, juga Cirebon, nanti industri padat karya akan berkumpul di kawasan tersebut,” ujar Emil.

Terkait pembangunan pabrik BJG, dirinya inginkan agar, mulai dari “ground breaking” sampai dengan peresmian. Jangan ada gangguan-gangguan.

“Kalau mau uang ya kerja, jangan minta-minta, jangan ada japrem-japrem (jatah preman). Jadilah manusia yang mulia karena ikhtiarnya,” katanya.

Untuk diketahui, PT BJG adalah perusahaan patungan yang didirikan dengan komposisi saham lokal 51% dan asing 49%. Komposisi lokal dipegang Grup Saputra yang sudah berkecimpung di industri kaca tanah air selama 30 tahun. Komposisi asing dipegang grup Jinjing yang memiliki teknologi untuk memproduksi kaca berkualitas tinggi. Grup Jinjing akan memberikan transfer teknologi, mesin dan pelatihan SDM kepada  grup Saputra.

Nantinya, PT BJG akan memproduksi kaca lembaran dan produk turunannya. Kaca yang diproduksi bisa dpakai untuk arsitektur, otomotif, rail dan elektronik, dengan target market 50% lokal dan 50% ekspor.

Dengan nilai investasi Rp1 Triliun Rupiah, BJG bangunan pabrik untuk tahap awal akan dibangun di atas lahan seluas 15 hektar. BJG diperkirakan dapat menyerap sekitar seribu pekerja. Perusahaan ini pun ditargetkan bisa beroprasi di awal tahun 2020.

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto lewat sambutan yang dibacakan perwakilannya, Ade Rohmanto, berharap lebih banyak lagi investasi semacam BJG ini. Sebab menurut data yang disampaikannya, Perkembangan Ekspor Kelompok Industri Barang Galian Bukan Logam, yang didalamnya termasuk kaca, menunjukan kinerja yang positif.

“Industri manufaktur tetap menjadi pendorong perekonomian Indonesia,” katanya.

Sektor Industri dituntut jadi pendorong utama, katanya. Sebab sangat mempengaruhi nilai tambah perolehan devisa dan penyerapan tenaga kerja. Perdagangan bebas membuat akses pasar semakin terbuka, dan meningkatkan daya saing.

Target pertumbuhan ekonomi, lanjutnya, salah satunya dengan mendorong iklim investasi. Pemerintah terus melakukan upaya, antara lain dengan memberikan insentif fiskal seperti skema Tax Allowance serta Tax Holiday.

Serta, melakukan upaya pengendalian impor dan pengamanan pasar dalam negeri, dan optimalisasi pemanfaatan pasar dalam negeri dan pasar ekspor serta Program Peningkatan Produksi Dalam Negeri (P3DN).

Pun pada Juli 2018, pemerintah telah meluncurkan Online Single Submission (OSS) untuk penyederhanaan proses perizinan dan menciptakan model pelayanan perizinan terintegrasi di Indonesia.

Menperin, kata perwakilannya optimistis, dengan kemudahan-kemudahan yang telah diberikan pemerintah mampu meningkatkan pertumbuhan industri nasional, sehingga dapat menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Adapun produk kaca lembaran dan pengaman dalam negeri mempunyai kualitas bagus, sehingga mampu bersaing di pasar global.

“Produk dalam negeri punya kualitas yang sangat bagus, ini yang membedakan produk Indonesia dengan negara lainnya” katanya.

Dikatakannya, hasil produksi kaca nasional yang meliputi kaca lembaran, kaca pengaman, dan kaca cermin/ dekoratif, sebesar 70 persen untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, sementara 30 persen diekspor ke berbagai negara Timur Tengah antara lain, Afrika, Oceania, Eropa, Amerika Serikat dan Asia dengan total nilai ekspor tahun 2018 sebesar USD 113 juta.

“Untuk pemanfaatan hasil produksi kaca di dalam negeri diserap oleh sektor properti sebesar 65 persen, otomotif 15 persen, furniture 12 persen dan lainnya 8 persen,” terangnya.

“Harapan Pak menteri kemarin, kita mampu meningkatkan sekitar 40 persen ekspor,” harapnya.

Bupati Subang Ruhimat, berharap kegiatan industri di wilayahnya bisa membawa manfaat bagi kesejahteraan masyarakat Jawa Barat, dan Subang khususnya.

“Semoga efek domino masuknya perusahaan ini masuk Subang, memberi manfaat, dan menarik investor lain masuk ke subang,” ucap Ruhimat.

Sejalan Gubernur, Ruhimat mengakui bahwa Subang mulai banyak dilirik investor sebab aksesbilitasnya yang cukup strategis. Ada jalan Tol Cipali, kedepan akan ada pelabuhan besar Patimban, serta Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati Majalengka.

“Sehingga diperlukan kebijakan strategis agar semua unsur dapat berkontribusi dalam pembangunan,” ujarnya.

Bintang Jinjing Glass, imbau Ruhimat, supaya juga memberi efek positif untuk masyarat sekitar pabrik. Agar dapat dijadikan lembaga kerja mengacu pada berkurangnya angka pengangguran. Juga, supaya tetap menjaga kelestarian lingkungan hidup, agar tidak terjadi kerusakan alam.

Komisaris PT Bintang Jinjing Glass (BJG), Lukman Astanto, mengungkap bahwa sejak dibangunnya Tol Cipali sebagai salah satu penghubung Tol Trans Jawa, Indonesia memasuki era baru infrastruktur yang baik dan akan menjadi pengherak pembangunan.

“Sehingga tren kebutuhan bahan kaca akan meningkat. BJG nantinya siap memenuhi bahan baku untuk pembangunan dalam negeri maupun ekspor, dalam bentuk row material atau bahan jadi,” tuturnya.

Subang sendiri menjadi pilihan, karena punya akses yang baik. Setelah pihaknya melakukan survey, masyarakat Subang dinilai ramah dan terbuka terhadap investasi.

“Akses Tol Cipali, Bandara Kertajati, dan Patimban, yang luar biasa buat Subang. Mudah-mudahan juga menarik efek multiplayer hadirnya investor lain, memperluas bidang usaha lainnya, sehingga meningkatkan devisa, memajukan perekonomian masyarakat, dan menyerap lapangan kerja,” harap Lukman.

Ia pun berharap kepada Pemerintah, dan para pihak terkait, agar dibuatkan pintu Tol Cipendeuy, yang terhubung ke Cipali. Sebab akses Tol menurutnya mutlak diperlukan, sebagai penunjang tumbuhnya industri di suatu daerah.