Hampir 50 Juta Wisatawan Ditargetkan Berkunjung ke Jabar Tahun Ini
Di Posting Oleh : bappeda jabar humas, Tanggal : 05 Feb 2018 08:50 , Dilihat Sebanyak : 187 Kali

BANDUNG, INILAH KORAN — Pemerintah Provinsi Jawa Barat terus mendorong kuantitas dan kualitas kawasan pariwisata di Jawa Barat guna mencapai target jumlah kunjungan wisatawan pada 2018 mencapai 49,750,000 kunjungan wisatawan. Jumlah tersebut dibagi, diantaranya 48 juta kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) dan 1,750,000 kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Kepala Dinas Pariwisata Jawa Barat Ida Hernida menyatakan, dirinya akan mendukung penuh pembuatan kawasan wisata buatan di Jabar. Hal tersebut untuk menopang kawasan pariwisata alami.

“Kami akan dorong (Kawasan Pariwisata Buatan), soalnya kan memang itu bisa mendatangkan wisatawan, ” kata Ida saat dihubungi, Minggu (4/2/2018).

Hal tersebut sudah sesuai dengan strateginya dengan melibatkan pihal swasta dalam strategi pentahelixnya. Yakni, melibatkan kalangan swasta, akademisi, serta berbagai pihak yang concern di bidang pariwisata dan kebudayaan di Jawa Barat.

Selain itu, pihaknya juga mendukung penyelenggaraan acara kebudayaan yang sering kali publikasinya kurang maksimal. Oleh karenanya, pihaknya bersama badan promosi, selain mempromosikan kawasan unggulan di Jabar, juga mempromosikan event budaya yang biasa di gelar di Jabar.

Untuk diketahui, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Disparbud menargetkan jumlah kunjungan wisatawan pada 2018 mencapai 49,750,000 kunjungan wisatawan. Diantaranya 48 juta kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) dan 1,750,000 kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).

Untuk mencapai target ini, dalam Rapat Koordinasi (Rakor) I Kepariwistaan dan Kebudayaan Jawa Barat di Bandung, Rabu (31/1/18), Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) menekankan beberapa hal terkait rencana strategis yang perlu dilakukan untuk mendongkrak pariwisata di Jawa Barat. Hadir dalam rakor ini para Kepala Disparbud kabupaten/kota, serta para stakeholder kepariwisataan dan kebudayaan se-Jawa Barat,

Aher menekankan inovasi dan visi besar dalam pengembangan pariwisata di Jawa Barat. Pengembangan pariwisata adde value-nya harus bisa dipastikan kembali atau bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Kata Aher, urusan pengembangan pariwisata harus menjadi prioritas.

“Jangan ragu untuk berinovasi untuk kepariwisataan, dan pariwisata itu added value-nya penuh untuk kita. Kita bahan dasarnya ada, karena bumi yang kita miliki indah segala macamnya,” ujar Aher dalam arahannya.

Dia mencontohkan, Kabupaten Pangandaran telah berhasil melakukan terobosan, sehingga dunia wisata di sana bisa memberikan penambahan Pendapatan Asli Daerah (PAD) signifikan untuk pemasukan daerah. “Sejak awal Pangandaran punya kesadaran kalau unggulannya adalah kepariwisataan. Ketika Pangandaran menjadi Kabupaten Pangandaran, PAD-nya itu Rp 22 Miliar. Tahun 2017 PAD Pangandaran Rp 144 Miliar. Lompatannya akibat pariwisata luar biasa,” kata Aher.

Lebih lanjut, Aher mengatakan terobosan dan visi yang dilakukan Pangandaran terlihat pada landscape kotanya. Pangandaran berani menghilangkan sekolah dan puskesmas kecil untuk membuat ruang terbuka hijau atau taman dilengkapi jalan besar. Kemudian Pemkab Pangandaran mengganti sekolah dan puskesmas tersebut oleh bangunan sekolah dan puskesmas yang lebih besar di lokasi lain.

Selain itu, penyelenggaraan sebuah event budaya harus terkoordinasi dengan baik, sehingga bisa berlangsung dengan gebyar. “Oleh karena itulah, koordinasi sangat penting untuk melipatgandakan dampak positif atau manfaat sebuah event pariwisata dan budaya. Sehingga dampaknya tidak saja pada kesuksesan penyelenggaraan, tapi juga berdampak pada transaksi perekonomian yang memadai yang bisa dirasakan secara langsung oleh masyarakat,” papar Aher.

Hal lain yang ditekankan Aher, infrastruktur atau fasilitas budaya. Dia mencontohkan gedung-gedung pertunjukkan atau gedung kesenian representatif harus dimiliki sebuah daerah. Event-event seni dan budaya juga harus masuk dalam kalender event dan terinformasikan dengan baik melalui sebuah media.

“Tempat-tempat pertunjukkan harus ada mewadahi karya-karya seni untuk ditampilkan dan dinikmati secara baik, sekaligus dikembangkan, dan dihargai. Dan kemudian membangun kebahagiaan lewat seni. Jadi, gedung kesenian harus ada di kabupaten/kota masing-masing hiji (satu),” tutur Aher.

“Pada saat yang sama kita ingin ada destinasi wisata unggulan. Unggulannya nanti buat unggulan tingkat provinsi. Nanti masing-masing kabupaten/kota punya lima unggulan misalnya, dan satu unggulannya kelas provinsi. Nah, nanti dari tingkat provinsi tinggal menentukan mana unggulan untuk ke tingkat nasional,” pungkas Aher. (Dea Andriyawan)