Guru SD Bandung Barat Raih Penghargaan Harjapamekas 2016
Di Posting Oleh : HUMAS BAPPEDA JABAR, Tanggal : 04 Aug 2016 11:33 , Dilihat Sebanyak : 27 Kali

Antarajabar.com.- Seorang guru SD Negeri Pakuhaji Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Euis Rustiani, meraih penghargaan Hadiah Harjapamekas 2016 dari Yayasan Kebudayaan Rancage yang didirikan budayawan Ajip Rosidi, Erry Riyana Harjapamekas, Edi S Ekajati, dan sejumlah tokoh lainnya.
Penghargaan untuk Euis Rustiani tersebut diberikan langsung oleh Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar di sela-sela acara Kongres Bahasa Daerah Nusantara Pertama di Gedung Merdeka Kota Bandung, Selasa.

“Bangga tentunya dan terharu juga,” kata Euis Rustiani yang sudah mengabdikan dirinya sebagai guru Bahasa Sunda sekitar 20 tahun lebih.

Mengenakan batik lengan panjang dan hijab berwarna merah menuturkan saat ini diperlukan tekad kuat dan kreativitas untuk mengajarkan bahasa daerah, terutama bahasa sunda kepada generasi muda.

“Kalau dulu, antusiasme murid ketika diberikan pelajaran bahasa sunda itu sangat tinggi. Mereka resep (suka sekali) ketika saya memberikan ilmu tentang Bahasa Sunda. Tapi kalau sekarang responsnya kurang. Makanya kita harus benar-benar kreatif agar murid mau tertarik terhadap bahasa sunda,” kata dia.

Ia mengatakan seharusnya bahasa daerah seperti Bahasa Sunda bisa dijadikan sebagai bahasa ibu seperti Bahasa Indonesia. “Jadi kalau Anda orang Sunda harus bisa bahasa Sunda, namun sekarang karena globalisasi Bahasa Sunda mulai terkikis,” kata dia.

Ia mengaku, dalam mengajarkan Bahasa Sunda dirinya memiliki tantangan yang besar karena generasi muda saat ini sangat mudah “terkontaminasi” dengan kebudayaan dari luar.

“Untuk menggali lagi supaya anak-anak mau belajar bahasa sunda kuncinya justru terletak di guru. Jadi kuncinya ialah guru bahasa sunda itu harus kreatif dan bisa mengetahui perkembangan terkini tanpa meninggalkan nilai-nilai yang ada,” katanya.

Ia berharap penghargaan yang diraihnya tersebut bisa menjadi penyemangat bagi guru bahasa daerah lainnya di Indonesia agar tetap bisa melestarikan dan mengajarkan bahasa daerah.

“Pokoknya saya takut bahasa sunda hilang, jadi kita harus melestarikan dan harus dipupuk lagi agar tidak punah,” ujar dia.