Gubernur Pimpin Apel Pencanangan Jabar Tolak Kekerasan
Di Posting Oleh : HUMAS BAPPEDA JABAR, Tanggal : 18 Jul 2016 17:50 , Dilihat Sebanyak : 50 Kali

Antarajabar.com – Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan atau Aher memimpin Apel Besar Pencanangan Jabar Tolak Kekerasan di Halaman Gedung Sate Bandung, Senin.

“Melalui apel besar ini kita ingin mewujudkan sekolah ramah anak, mengapa kita pilih sekolah karena sekolah itu dihuni oleh anak-anak kita yang terkadang justru menjadi sasaran kekerasan. Oleh karena itu, hal tersebut yang kita sasar untuk lakukan sosialiasi,” kata Ahmad Heryawan usai memimpin apel tersebut.

Pada kesempatan tersebut Ahmad Heryawan membubuhkan sebuah kalimat terkait kampanye “Pencanangan Jabar Tolak Kekerasan” di atas sebuah spanduk putih bertuliskan “Kami Menolak Segala Bentuk Kekerasan”.

Ia menuturkan alasan sekolah menjadi sasaran utama dari Pencanangan Jabar Tolak Kekerasan karena ada 9,6 juta anak berstatus siswa sekolah menengah atas dan sederajat dan sekolah terkadang menjadi tempat terjadinya kekerasan terhadap anak-anak.

“Dan seharusnya menjadi tempat ramah anak dan perlindungan bagi anak-anak karena jika harus datang ke setiap rumah untuk melakukan sosialiasi Pencanangan Jabar Tolak Kekerasan lebih sulit,” kata dia.

Dirinya juga menyampaikan apresiasi kepada Jajaran Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Jawa Barat atas karya pemikiran yang dituangkan dalam buku saku “Selamatkan Anak Kita, (Jabar Tolak Kekerasan)”.

“Saya berharap kehadiran buku ini menjadi sumber informasi dalam menambah wawasan, pengetahuan dan kepedulian segenap komponen masyarakat dalam upaya perlindungan terhadap anak. Tidak lupa, Saya ucapkan selamat kepada sekolah yang meraih penghargaan sebagai sekolah responsif terhadap Program Jabar Tolak Kekerasan,” ujar dia.

Sementara itu, Asisten Kesejahteraan Setda Provinsi Jawa Barat Ahmad Hadadi menambahkan Pencanangan Jabar Tolak Kekerasan juga bertepatan dengan momentum hari pertama sekolah tidak boleh ada mos (masa orientasi siswa baru) dan kekerasan terhadap anak.