Geopark Ciletuh Diperluas
Di Posting Oleh : HUMAS BAPPEDA JABAR, Tanggal : 06 Oct 2016 13:56 , Dilihat Sebanyak : 183 Kali

PALABUHANRATU, (PR).- Luas kawasan Geopark Ciletuh diperluas meliputi enam kecamatan baru, yakni Palabuhanratu, Cikakak, Cisolok, Simpenan, Tegalbuleud, Surade. Dengan demikian, total kecamatan yang masuk dalam kawasan geopark menjadi delapan kecamatan temasuk Ciemas dan Ciracap yang sudah lebih dulu didaftarkan ke UNESCO.

Bupati Kabupaten Sukabumi Marwan Hamami menuturkan,perluasan kawasan geopark sesuai permintaan UNESCO saat menggelar konferensi di Inggris sekitar dua pekan lalu. Ia menytakan, penamaannya pun berubah menjadi Geopark Ciletuh Palabuhanratu. “Nanti awal tahun 2018, kemungkinan Maret, tim dari UNESCO mau melihat langsung ke geopark,” ucap Marwan, saat menghadiri HUT ke-71 TNI di Makodim 0622 Kabupaten Sukabumi, Kamis (5/10/2016).

Geopark atau kawasan wisata taman alam batuan tua Ciletuh telah diakui sebagai geopark nasional pada 2015 lalu. Marwan menuturkan,  pada konferensi di Inggris beberapa waktu lalu, Pemkab Sukabumi, Pemprov Jawa Barat dan pemerintah pusat mengajukan Ciletuh sebagai geopark dunia. “Targetnya pada 2018 tujuan itu tercapai. Pemda, pemprov dan pemerintah pusat sedang berusaha memenuhi semua persyaratannya,” kata Marwan.

Geopark Nasional Ciletuh memiliki luas sekitar 35.000 hektare. Kawasan itu meliputi sembila desa di Kecamatan  Ciemas, yakni Desa Taman Jaya,Ciwaru, Girimukti, Mekarsakti, Ciemas, Mandrajaya, Cibenda, Sidamulyo serta Mekarjaya dan enam desa di Kecamatan Ciracap di antaranya Desa Guriungbatu, Cikangkung, Mekarsari, Ujungggenteng, Pangumbahan dan Purwasedar.

Syarat utama

Marwan menjelaskan, ada tiga syarat utama yang harus dipenuhi untuk menjadi geopark dunia. Selain luas kawasan, kebijakan pemerintah dan dampak pada masyarakat juga harus terintegrasi dengan kehadiran geopark.

“Kabupaten Sukabumi sebagai pemilik tempat, bentuk kebijakan peme-rintah pusat dan provinsi juga harus mendukung geopark. Syarat ketiga soal masyarakat, ini yang mungkin agak sulit dikonsolidasikan,” katanya.

Ia menjelaskan, faktor masyarakat ini di antaranya soal kualitas sumber daya manusia, kearifan lokal dan mata pencaharian warga. “Kalau kualitas SDM sering meninggalkan masalah, dipastikan penetapan geopark pada 2018 bisa dibatalkan,” katanya.

Ia menegaskan, untuk mendapat pengakuan geopark dunia dari UNESCO sangat berat. Kendati demikian, bisa terealisasi jika ada dukungan dari masyarakat dan pemerintah pusat.

Pembina Kelompok Periggerak Pariwisata Kabupaten Sukabumi, Dadang Hendar menambahkan, Geopark Ciletuh Palabuhanratu akan menjadi destinasi wisata tingkat dunia. “Sukabumi akan semakin diminati wisatawan jika perilaku masyarakat di kasawasan itu dapat menumbuhkan sadar wisata. Pemberdayaan masyarakat sangat penting. Bagaimana mendidik masyarakatnya untuk siap dalam mengelola objek wisata bertaraf internasional, itu jadi tugas semua pihak,” katanya.