Dorong Pembangunan di Jabar Selatan
Di Posting Oleh : HUMAS BAPPEDA JABAR, Tanggal : 26 Aug 2016 10:43 , Dilihat Sebanyak : 42 Kali

Inilah, Bandung.- Berbagai kalangan mengakui kawasan Jabar bagian selatan masih belum tersentuh pembangunan. Bupati Tasikmalaya Uu Ruzhanul Ulum bertekad membangun infrastruktur untuk menggerakkan roda ekonomi.

Dia mengakui, infrastrukur kawasan selatan Jabar terbilang relatif minim. Padahal, adanya infrastruktur seperti jalan dan akses listrik serta telekomunikasi itu menjamin kemajuan ekonomi setempat.

“Untuk mengembangkan daerah Tasikmalaya selatan saya memiliki konsep Gerbang Desa, Gerakan Membangun Desa. Secara umum, Jabar selatan belum tersentuh maksimal pembangunan,” kata Uu saat diskusi dengan wartawan di Bandung, Kamis (25/8/2016).

Dia mengklaim, konsep Gerbang Desa berhasil dikembangkan di Kabupaten Tasikmalaya. Selain membangun jalan, konsep ini menjamin adanya akses telekomunikasi desa dan listrik desa yang ujungnya meningkatkan pendapatan masyarakat desa.

“Adanya konsep ini pun menandakan suatu daerah siap menghadapi globalisasi,” ujarnya.

Serupa dengan itu, wacana pengembangan Jabar bagian selatan ditanggapi Ayi Vivananda. Pengamat sosial yang kini turun bertani di selatan Jabar ini menegaskan, Pemprov Jabar harus mengembangkan infrastruktur listrik terlebih dahulu. Pasalnya, di sisi selatan tersebut energi ini relatif terbatas.

Ayi menjelaskan, hampir di seluruh kecamatan di pesisir itu selalu terjadi pemadaman aliran listrik. Kalau pun mengalir, listrik hanya bertahan selama 8-12 jam setiap hari. Bahkan, saban hari ada daerah yang hanya teraliri listrik selama tiga jam saja.

“Di selatan (Jabar) itu sumber energi masih terbatas. Saya sepakat untuk mengembangkan pesisir selatan, tapi Pemprov harus memastikan dan mengembangkan akses listrik dan informasi masyarakat di sana. Seperti di Sindangbarang, tiap hari selalu terjadi pemadaman listrik,” kata Ayi.

Selain itu, sinyal telekomunikasi terbilang relatif sulit. Sebab, adanya base tranceiver station (BTS) operator telekomunikasi tetap membutuhkan energi. Untuk itu, dia mendorong Pemprov serius menangani program Jabar Caang.

“Tak hanya itu, pembangunan suatu daerah itu bukan sekadar membangun infrastruktur jalan hotmix saja. Tapi, pengembangan berdasarkan nilai-nilai humanistik dan moralitas budaya. Jadi, akar budaya setempat tidak tercerabut,” sebutnya.

Mengenai potensi, Ayi yang selama ini langsung turun bertani mengaku banyak yang bisa digali sebagai sumber perekonomian. Satu di antaranya yakni ikan sidat atau belut berukuran besar.

Sepanjang jalur selatan, sidat ini bisa mudah ditemui. Ikan karnivora ini hidup di air tawar, tapi jika mijah/bertelur mereka pergi ke perairan laut dalam. Ini menjadi pembeda dengan ikan salmon yang habitatnya di air laut tapi jika bertelur mereka pergi ke hulu.

Dia mengaku, sejauh ini baru Biofarma yang mengembangkan pembesaran sidat. Ikan ini terbilang sulit dikembangbiakkan karena belum ditemukan teknologinya. Masyarakat hanya bisa membesarkannya saja. Sidat yang banyak dikonsumsi warga Jepang ini harus bertelur di perairan laut dalam.

“Selain potensi ekspor ke Jepang, sidat ini pun dicari pasar lokal. Pembesaran ikan ini hanya memerlukan waktu 10-12 bulan. Sulitnya membesarkan ikan ini kondisi cuaca, suhu, dan kadar oksigen air menjadi penting. Ikan ini pemakan udang kecil,” tuturnya seraya menyebutkan sejauh ini kolam-kolam pembesaran sidat bisa ditemui di Sukabumi.