Dampingi Mentan Andi, Wagub Demiz Panen Raya Padi Varietas Ciherang & Mekongga di Pameungpeuk
Di Posting Oleh : bappeda jabar humas, Tanggal : 07 Feb 2018 08:36 , Dilihat Sebanyak : 39 Kali

KAB. GARUT, HUMAS JABAR — Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar (Demiz) mendampingi Menteri Pertanian (Mentan) RI Andi Amran Sulaiman dalam rangka panen raya padi. Lokasi panen kali ini bertempat di Desa Mancagahar, Kecamatan Pamengpeuk, Kabupaten Garut, Selasa (6/2/18).

Menurut data yang diterima Tim Peliput Humas Jabar dari Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumer Daya Lahan Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian RI, Dedi Nursyamsi, lebih kurang ada 300 ha dari hamparan 764 ha sawah yang akan dipanen pada hari yang sama, sisanya akan berangsur dipanen sampai akhir Februari 2018. Varietas padi yang dipanen dominan Varietas Ciherang dan sebagian lagi Varietas Mekongga ditambah varietas lainnya dengan produktivitas mencapai sekitar 8,3 ton/ha GKP atau 6.9 GKG.

Harga gabah pada akhir 2017 mencapai 5.800 per kg. Saat ini harga gabah GKP berkisar Rp 4.500-4.800 per kg, sehingga ada penurunan Rp 1.000-1.300/kg.

Dalam sambutannya, Mentan mengungkapkan bahwa memasuki tahun keempat Kementerian Pertanian dibawah kewenangannya, pihaknya terus melakukan berbagai upaya dan terobosan, serta bantuan Pemerintah terus diberikan kepada para petani. “Mulai irigasi tersier kita perbaiki tiga juta hektar lebih di seluruh Indonesia. Dan itu pertama dalam sejarah,” ungkap Mentan.

Upaya lainnya yang dilakukan Pemerintah untuk meningkatkan produksi pertanian, yaitu pembangunan berbagai waduk. Selain itu, bantuan benih juga diberikan, hingga Pemerintah mengucurkan anggaran Rp 2 Trilium lebih untuk pembibitan.

“Hasilnya adalah Jagung yang dulunya kita impor 3,6 juta ton. Sekarang tidak ada impor bahkan kita sudah ekspor. Juga Beras pada tahun ketiga kita tidak ada impor. Bawang dulu langganan impor dari Thailand, sekarang kita sudah ekspor ke enam negara. Cabe dulu bergejolak, sekarang sudah stabil,” ujar Mentan.

Total luas panen di Kabupaten Garut pada Februari ini mencapai 22.972 ha dengan produktivitas 6.9 ton/ha GKG, sehingga produksi mencapai 158.506 ton GKG setara dengan 99.859 ton beras. Konsumsi beras per bulan di Kabupaten Garut berdasarkan jumlah penduduk sekitar 2,5 juta jiwa sebesar 28.266 ton beras. Dengan demikian pada Februari 2018 Kabupaten Garut surplus beras sebanyak 71.593 ton.

Total luas panen padi di Kabupaten Garut pada bulan Januari 2018 seluas 16.565 ha setara dengan produksi padi 114.298 ton GKG atau sama dengan produksi 72.008 ton beras. Februari ini merupakan panen dengan lahan terluas, yaitu 22.972 ha dengan produksi 158.506 ton GKG atau setara 99.589 ton beras dan bulan Maret 19.242 ha dengan produksi padi 132.770 ton GKG setara 83.644 ton beras. Sementara areal sawah di Kabupaten Garut merupakan sawah irigasi teknis dan nonteknis yang tersebar di 42 Kecamatan.

Sementara itu, luas lahan panen padi di Provinsi Jawa Barat pada Januari 2018 = 100.000 ha, Februari = 160.000 ha, dan Maret = 275.000 ha. Sisa luas panen Provinsi Jawa Barat bulan Februari 2018 seluas 275.000 ha (setara 1.000.000 ton beras) untuk masa panen 7-28 Februari 2018.

Produksi GKG Provinsi Jawa Barat pada Januari: 610.000 ton (setara 382.000 ton beras), Februari: 950.000 ton (setara 600.000 ton beras), dan Maret: 1.600.000 ton (setara 1.000.000 ton beras).

Konsumsi beras per bulan Provinsi Jawa Barat berdasarkan jumlah penduduk 46,7 juta jiwa adalah 330.000 ton beras. Jadi, terjadi surplus Januari 52.000 ton beras, Februari surplus 270.000 ton, dan Maret surplus 670.000 ton.

Sementara harga jual Gabah Kering Panen (GKP) ditingkat petani di Provinsi Jawa Barat puncaknya pada 24 Januaru 2018 mencapai Rp 5.700/Kg. Harga sekarang per 7 Februari 2018 sudah turun Rp 700/kg menjadi Rp 5.000/kg GKP.

Wagub Demiz menekankan bahwa pihaknya terus mendorong kesejahteraan serta berbagai fasilitas bagi para petani. Namun, dia pun meminta agar rantai pasok atau distribusi pangan khususnya beras harus terus dibenahi.

“Jangan sampai impor merugikan petani. Petani, kita dorong terus untuk menanam dan berproduksi sebaik-baiknya. Tapi belum tentu sejahtera andaikata tidak dibenahi rantai pasoknya. Belum tentu juga meringkan masyarakat kalau surplus padi tapi masyarakat membelinya dengan harga mahal,” ucap Wagub.

“Kita harus meningkatkan produksi (pangan) kita dengan baik, sehingga betul-betul ketahanan pangan kita terjaga plus kesejahteraan petaninya juga meningkat dengan baik,” lanjutnya.

Luas panen padi secara nasional bulan Januari 2018 = 854.000 ha dengan hasil 4,51 juta ton GKG atau setara dengan 2,83 juta ton beras,  surplus 329 ribu ton dibandingkan kebutuhan konsumsi 2,5 juta ton. Panen Februari = 1,63 juta ha dengan produksi 8,67 juta ton GKG setara 5,43 juta ton beras atau surplus 2,93 juta ton beras, dan untuk Maret panen seluas 2,25 juta ha dengan prosuksi 8,8 juta ton GKG.

Untuk itu, Jawa Barat tahun ini akan menggenjot pembangunan infrastruktur waduk untuk peningkatan produksi pangan. Kata Wagub, ada tujuh waduk yang sedang dan akan dikerjakan pada tahun ini. Selain itu, ada jua waduk yang dibangun untuk menanggulangi banjir dan persediaan air baku. Ketujuh waduk itu, ada di Sukamahi dan Ciawi (Bogor), Sadawarna, Cipanas (Subang-Sumedang), Matenggeng (Ciamis-Cilacap), Leuwi Keris (Ciamis-Tasikmalaya), dan Kuningan.

“Sukamahi dan Ciawi ini untuk buffer Jakarta, air baku, selain buat irigasi, dan PLTA. Pembebasan sudah selesai. Kemudian Sadawarna, antara Subang dengan Sumedang, ada juga Waduk Cipanas. Jadi di Sumedang ada tiga (waduk), Jatigede, Sadawarna, Cipanas. Kemudian Matenggeng, antara Ciamis dan Cilacap, ada juga Leuwi Keris antara Ciamis dan Tasikmalaya. Kemudian ada satu lagi proyek Waduk Kuningan,” papar Wagub usai acara panen raya.

“Sementara kita tahu, bahwa Cirebon Raya pasokan air bersihnya juga belum tercukupi. Ini (Waduk Kuningan) barang kali, salah satu tempat air baku untuk pasokan air bersih ke Cirebon Raya. Ada empat mininal fungsi utama dari waduk-waduk ini, yaitu irigasi, PLTA, mengendalikan banjir, dan pariwisata. Tujuh (waduk) kita bangun tahun ini mulainya. Kalau ngga beres, waduh… Kita harus jadi lumbung pangan terbaik,” pungkasnya.

Pada kesempatan ini, Mentan didampingi Wagub menyerahkan beberapa bantuan. Diantaranya bantuan benih dan klaim asuransi dari Jasindo untuk petani yang mengalami kekeringan dan peternak yang sapinya mati. “Ini pertama dalam sejarah, ada petani yang kekeringan dan peternak yang sapinya mati dapat asuransi,” tutur Mentan.