Batik, Identitas Bangsa Yang Harus Dilestarikan
Di Posting Oleh : HUMAS BAPPEDA JABAR, Tanggal : 19 Jan 2017 13:52 , Dilihat Sebanyak : 38 Kali

CIREBON – Perkembangan Batik di Jawa Barat sangat memuaskan, hampir 27 kabupaten/kota mulai membuat Batik dengan motif daerah masing-masing. Salah satunya Mega Mendung, merupakan motif khas dari daerah Cirebon yang  banyak diminati dan dikenal luas.

Diungkapkan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Jawa Barat, Netty Heryawan saat melakukan kunjungan ke Sentra Batik Trusmi Kabupaten Cirebon, Rabu (18.1.17). “Hal ini karena karakteristik masyarakat Cirebon yang berada pada titik lintas perdagangan membuat perajin berani keluar dari pakem,” lanjutnya.

Dengan berani menciptakan  kreativitas dan inovasi atas warna dan motif baru yang lazimnya ada dimasyarakat. Nilai tambahnya, tutur Netty, sejak ditetapkannya Batik sebagai Intangible  Word Heritage pada 2 Oktober 2009 lalu, membuat masyarakat merasa terbangun kecintaanya pada Batik.

Inilah yang menggerakan Dekranasda Provinsi Jawa Barat untuk mendorong para pelaku usaha dan pembatik melakukan pengembangan kreatifitas dan inovasi melalui pembinaan. Karena umumnya, imbuh Netty, warna dan motif Batik itu selalu gelap dengan warna tanahan dan soga. Sehingga masih ada beberapa daerah lain di Jawa Barat yang belum berani untuk keluar dari pakemnya, imbasnya Batik kurang diminati dan tidak berkembang.

“Ternyata hari ini Batik tidak hanya dibutuhkan dalam bentuk fashion tapi juga dalam aplikasi interior di rumah,” katanya.

Menanggapi foto salah satu artis dunia, Madonna yang menjadi viral menggunakan Batik dalam pemotretan, Netty berujar Batik saat ini sangat dikenal luas oleh dunia international. Bahkan Nelson Mandela pun terkenal dengan icon kemeja Batik yang juga viral di berbagai media.

“Tinggal bagaimana kita mendokumentasikan motif yang digunakan di luar negeri. Itu yang menjadi tanggung jawab kita bagaimana Dekranasda, Kementerian Hukum dan Ham dibantu Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk terus menjaga HAKI ( Hak Atas Kekayaan Intelektual) dari setiap motoif baru yang dilahirkan para pembatik Indonesia,” papar Netty.

Tentunya  Batik harus terus lestari dan dilestarikan oleh masyarakat khususnya generasi muda. Karena, menurut Netty selama ini Batik identik dengan orangtua dengan alasan yang tua itu tekun dan teliti, namun belum tentu juga ketika anak muda dapat membatik dengan kreasi yang dimiliki.

“Batik bukan saja menjadi kebanggaan seluruh masyarakat bangsa Indonesia, tetapi juga dapat berdampak bagi kesejahteraan bagi pelaku usaha,” pungkasnya.