April 2017 Indonesia Mulai Ekspor Beras
Di Posting Oleh : bappeda jabar humas, Tanggal : 31 Mar 2017 09:56 , Dilihat Sebanyak : 52 Kali
Coba pisang/TOK SUWARTO/MENTERI Pertanian Andi Amran Sulaiman mencicipi pisang raja bulu dari bibit varietas unggul yang dikembangkan Fakultas Pertanian UNS di Kec. Jenawi Kab. Karanganyar.

SOLO, (PR).- Indonesia dalam waktu dekat akan mengekspor hasil panen tanaman pangan ke Malaysia dan Papua Nugini. Total ekspor yang akan dilakukan secara bertahap mulai April 2017 sebanyak 19.000 – 50.000 ton.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, mengemukakan hal itu, saat tampil sebagai keynote speech dalam seminar “Peranan Sumber Daya Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan dalam mendukung Ketahanan Pangan Nasional” di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Kamis, 30 Maret 2017.

“Untuk mendukung ketahanan pangan, Kementerian Pertanian menggarap lahan di daerah perbatasan. Ada yang untuk mengembangkan jagung, padi dan komoditas lain,” katanya.
Pertanian di wilayah perbatasan tersebut, menurut Mentan, untuk memudahkan Indonesia melakukan ekspor. Dia mencontohkan, pengembangan pertanian di Entikong, Kalimantan Barat, untuk mendukung ekspor ke Malaysia. Sedangkan pengembangan pertanian di Merauke, untuk ekspor ke Papua Nugini.

Pada bagian lain, Amran Sulaiman, menyatakan, Indonesia terus memantapkan langkah menuju cita-cita menjadi lumbung pangan dunia. “Dua minggu lagi saya akan melakukan serah terima 15.000 ton beras untuk ekspor pertama ke Malaysia,” katanya.

Mentan, dalam paparannya menyatakan, pembangunan sektor pertanian di daerah terluar merupakan salah satu fokus kementerian yang dipimpinnya. Serambi Indonesia itu sangat potensial terutama untuk mengekspor komoditas hasil pertanian.

Selain program pengembangan pertanian di perbatasan sudah dilakukan di Entikong yang berbatasan dengan Malaysia dan Merauke yang berbatasan dengan Papua Nugini, juga dikembangkan di Maluku yang berbatasan dengan Filipina, Nusa Tenggara Timur yang berbatasan dengan Timor Leste, dan Batam yang berbatasan dengan Singapura. Selama ini, katanya, daerah perbatasan merupakan pintu masuk komoditas hasil pertanian dari negara lain. Hal itu karena daerah perbatasan tidak pernah menanam sendiri.

“Itu nanti akan menjadi celah kesejahteraan Indonesia. Karena begitu panen, hasilnya bisa langsung ekspor,” jelasnya. (Tok Suwarto)