Anggaran Pendidikan Jabar Naik 1,9 Triliun
Di Posting Oleh : bappeda jabar humas, Tanggal : 05 Mar 2018 08:30 , Dilihat Sebanyak : 38 Kali

BOGOR — Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher), mengatakan anggaran pendidikan di Jawa Barat mengalami kenaikan anggaran di tahun 2018 ini. Jika pada tahun 2017 lalu anggaran pendidikan Rp 1.7 Triliun, pada tahun 2018 naik menjadi Rp 1.9 Triliun.

“Saya sebut tambahan pada anggaran tahun ini yaitu sejumlah Rp 1,9 triliun,” sebut Gubernur Aher, disela tinjauannya di SMA N 1 Kota Bogor, Jumat (02/03/2018).

Nantinya kata Aher, dana tersebut akan digunakan untuk dana Bantuan Oprasional Sekolah (BOS), tunjungan guru, serta kenaikan honor para guru honorer.

“Perlu diketahui sejak 1 Januari 2017, SMA/SMK dikelola Provinsi, oleh karena itu sudah tugas saya sebagai Gubernur untuk meninjau dan memperhatikan pendidikan di Jawa Barat agar lebih maju,” ujar Aher.

“Dengan dipegang oleh Provinsi kita akan terus meningkatkan kualitas sisswa dan kualitas pengajar serta fasilitas akan terus kita tingkatkan, agar pendidikan di Jawa Barat ini semakin maju,” katanya.

Selain itu, Aher pun inginkan tingkat pendidikan yang di kelola oleh Kabupaten/Kota seperti SD, SMP, serta Kemenag yang mengembangkan Ibtidaiyah, Tsanawiah, dan Aliyah di Jawa Barat, juga mengedepankan kemajuan.

Adapun jumlah SMA/SMK Negeri di Jawa Barat saat ini ada sekitar 800, dan Swasta ada sekitar 3000 sekolah.

Sekolah Rumah Kedua

Gubernur Ahmad Heryawan berharap hadirnya suatu sekolah yang ramah anak. Sehingga sekolah, bisa menjadi rumah kedua bagi para pelajar.

“Kita punya jargon, sekolah adalah rumah kedua. Saat siswa berada di rumah nyaman, begitu pun di sekolah. Di rumah ada orang tua yang sayang, begitu pun guru dan kepala sekolah seperti itu,” kata Aher.

Maka dari itu, Aher meminta para guru untuk mengajar dengar ramah. Karena menurutnya, sudah tak jaman lagi ada guru yang mengajar dengan cemberut atau marah-marah.

Kedepan, perlu dibangun sebuah sekolah dengan suasana yang penuh cinta dan kasih, sebagai rumah besar yang dihuni guru dan murid.

“Keluh kesah para pelajar, tidak harus terfokus pada Guru Bimbingan Konseling (BK). Tapi guru lain termasuk kepala sekolah memiliki fungsi sebagai layaknya Guru BK. Anak-anak yang galau mau curhat harus difasilitasi. Jangan sampai mereka salah curhat dan malah terjerumus narkoba,” kata Aher.