AKHLAQ: TOLOK UKUR KESUKSESAN
Di Posting Oleh : HUMAS BAPPEDA JABAR, Tanggal : 18 Oct 2016 09:05 , Dilihat Sebanyak : 51 Kali

Oleh: Lia Muliawaty (PNS Bappeda Jabar) dan Abd Majid (Guru Besar UPI Bandung)

Abstrak

Bagaimana cara untuk mengetahui bahwa seseorang itu sukses atau gagal dalam kehidupannya? Jawabannya adalah akhlaq. Umat Muslim tidak ada pilihannya kecuali pilihannya adalah Muhammad saw. Beliau adalah model dan tipe orang yang sukses. Bahkan Allah pun memujinya. Sebagai bangsa Indonesia dan warga Provinsi Jawa barat tidak ada alasan untuk tidak menjadikannya sebagai tauladan utnuk menjadi orang sukses.

Kata kunci: sukses, akhlaq, muhammad

Sebagai seorang Ibu dan Ayah dari  tiga orang anak dan PNS pernah dan sering berfikir, antara lain, kenapa dalam kehidupan bermasyarakat kita ada orang yang sukses dan gagal. Salah satu kesimpulan saya adalah kedua hal itu merupakan bagian yang tak bisa dipisahkan dari keduanya dalam kehidupan seseorang. Mungkin juga itu merupakan bagian dari dinamika kehidupan. Meski demikian kalau kita tanya pada diri sendiri dan orang lain pasti jawabannya tidak mau gagal dan pasti ingin dan bercita-cita ingin sukses terus.

Bagi bangsa Indonesia yang mayoritas muslim, tak terkecuali warga di Provinsi Jawa Barat tidak ada alasan untuk tidak mencontoh kehidupan Nabi Muhammad saw. Beliau adalah seorang manusia yang berkebangsaan Arab kemudian terpilih oleh Allah swt sebagai Rasul-Nya yang terakhir dan menempatkan dirinya sebagai tauladan dan ikutan bagi siapa pun dan di mana pun.

Pertanyaannya ialah apa kunci yang dijadikan tolok ukur untuk melihat kesuksesan kehidupannya. Jawabannya tak lain adalah keberhasilan dirinya menempatkan pribadinya sebagai panutan bagi kehidupan orang banyak. Itulah yang kemudian disebut dengan akhlak. Nah, sekarang bagaimana caranya untuk mengetahui kesuksesan itu dalam kehidupan seperti dalam abad millenium ini?

Sehubungan dengan hal itu, penulis sering bertanya kepada teman-teman yang telah menunaikan ibadah haji atau umrah, baik ketika masih berada di Madinah maupun di tanah air kita, Indonesia, “Bagaimana perasaan atau apa yang sempat terpikir ketika berada di depan maqam (kuburan) Rasulullah Muhammad saw?” Pada umumnya teman-teman menjawab “Air mata berlinang tak terasa, dan (1) tiba-tiba saya merasakan begitu nikmatnya hidup ini andai bisa bersama dengan orang yang diagungkan oleh Allah ini, (2) bangga, terharu, dan bersyukur bisa berada di depan maqam (kuburan) beliau, orang yang mulia akhlaqnya, dikagumi dan dicintai oleh seluruh kaum muslimin, walau pun tak pernah bersua secara fisik”.

Kalau deskripsi dialog singkat di atas kita hubungkan dengan pertanyaan mendasar, apa sebenarnya yang menjadi tolok ukur kesuksesan hidup seseorang, khususnya muslim, dalam perjalanan kehidupannya? Jawabannya tentu adalah karena kepribadian orang yang bersangkutan baik dan disenangi oleh orang lain. Kepribadian seperti inilah yang kemudian oleh kita umat Islam, disebut akhlaq.

Sekaitan dengan itu, kalau kita menyimak dengan baik mengapa nabi Muhammad saw berhasil dengan baik dan sempurna menyampaikan risalah tauhid kepada komunitas Arab Kafir Quraisy saat itu? Jawabannya, karena akhlaq beliau yang amat terpuji, sebagaimana firman Allah dalam Alquran surat Al-Qalam/68:4 Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Adalah Fazlur Rahman, seorang pemikir muslim kontemporer, di dalam bukunya, Islam (1979) mengatakan bahwa sebenarnya Muhammad bin Abdullah itu tidak begitu dikenal oleh masyarakat Arab saat itu, kecuali karena ia berperilaku jujur. Jujur adalah salah satu wujud nyata akhlak seseorang. Demikian urgensinya soal kejujuran inilah, sehingga almarhum Mohammad Hatta pernah berkata “Lebih baik berteman dengan orang bodoh tetapi jujur, dari pada berteman dengan orang yang pintar tetapi tidak jujur”.

Kejujuran adalah merupakan salah satu pilar kepribadian Muhammad sehingga beliau terpilih sebagai pemimpin masyarakat internasional menuju suatu kehidupan yang penuh dengan kedamaian sekaligus menyudahi seluruh perutusan Allah di dunia ini. Inilah salah satu makna dari pernyataan Allah swt di dalam Alquran “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (Q.s. Al-Ahzab/33:40). Status seperti itulah menempatkan dirinya sebagai pembawa misi kesemestaan, sebagaimana penjelasan pada salah satu firman-Nya   “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (Q.s. Al-Anbiya/22:107).

Demikian juga kalau kita bertanya mengapa beliau berhasil memukau perhatian masyarakat internasional dan dicintai oleh orang hingga sekarang? Jawabannya karena akhlaq beliau yang demikian mengesankan.

Kesan yang demikian mendalam dan terpuji itu, rupanya bukan datang dari kalangan internal umat islam, namun juga datang secara eksternal dari para sarjana non-muslim. Sehingga para sarjana Barat dan para politikus menyebutkan suatu kenyataan bahwa di antara pribadi-pribadi umat manusia beragama dan pemimpin dunia terkenal, beliaulah satu-satunya orang yang seluruh aspek kehidupannya tercatat dengan abadi dalam sejarah kehidupan umat manusia.

Smith, sebagai yang dikutip oleh Maulvi Majid ‘Ali Khan, di dalam bukunya yang memenangkan sayembara penulisan tentang siapa Nabi Muhammad saw, Muhammad The Final Messenger (1980) mengatakan bahwa “Dalam Islam kita mengenal banyak tokoh, tetapi sangat berbeda dengan yang satu ini. Sejarah Muhammad bukan pula sesuatu yang bersifat bayangan dan bukan pula sesuatu yang misterius, tetapi kita punya catatan sejarah. Kita tahu betul sejarah eksternal kehidupan Muhammad, sedangkan sejarah internalnya setelah menjadi Rasul telah nyata bagi kita. Tentang riwayatnya, kita mempunyai buku yang benar-benar unik keasliannya, perawatannya, sedang otoritas isinya tidak seorang pun yang dapat meragukannya.

Sebagai pengikut setia ajaran dan keteladanan hidup beliau itu kita tarik ke tengah-tengah kehidupan praktis masyarakat muslim di Indonesia belakang ini, yang bercita-cita meneladani kehidupan (sunnah) beliau, menyimpan pertanyaan, misalnya, mengapa ada pemimpin umat tidak lagi kharismatik di kalangan umat, kurang simpati, umat yang gampang terpengaruh oleh keadaan situasional, dan sebagainya. Itu semua bermuara pada persoalan bagaimana kadar atau kualitas akhlaq kita sekarang.

Akhlaq adalah kondisi jiwa yang fithri (suci) sesuai dengan penciptanya (Allah) yang mewujud dalam bentuk perilaku yang mulia, dari waktu ke waktu semakin menarik perhatian banyak pihak untuk selalu membicarakannya yang pada gilirannya melahirkan banyak istilah dan teori baik yang muncul dari kalangan sarjana muslim maupun dari para sarjana non-muslim. Dalam beberapa literature, kata akhlaq sering dimaknakan atau diindentikkan pula dengan kata: moral, etika.

Ibnu Miskawaih, di dalam bukunya, Tahzib al-Akhlaq (1985) yang sementara ini ada kalangan menganggap bahwa karyanya ini adalah kitab daras pertama tentang filsafat etika, antara lain mengatakan bahwa selama seseorang masih berstatus manusia, maka selama itu pulalah dia harus menggunakan karakter dan kebajikan manusiawinya, maka pada hakekatnya kebajikan manusia adalah kebajikan Tuhan. Dan kebajikan itu bersumber dari jiwa. Pertanyaan kita ialah, apa itu jiwa? Jiwa, dalam Alquran, sering kita artikan dari kata nafs (Mufassir), nafs adalah suatu sistem yang ada pada diri setiap orang untuk mendorongnya melakukan sesuatu. Sesuatu itu bisa berakibat baik atau buruk. Implikasi dari sistem nafs ini dalam kehidupan praksis, antara lain bisa kita jumpai, misalnya, di dalam ayat 53 surah Yusuf/12, “Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, karena sesungguhnya nafs itu selalu menyuruh kepada kejahatan kecuali nafs yang diberi rahmat oleh Tuhan-Ku”.

Di dalam buku yang berasal dari tesis doktoralnya, Jiwa Dalam Alquran (2000), Ahmad Mubarok, antara lain menguraikan kandungan ayat ini ke dalam tiga makna (1) bahwa di dalam sistem nafs manusia, ada potensi yang akan menggerakkannya kepada tingkah laku tertentu (dalam ayat ini dicontohkan tingkah laku yang buruk), (2) di samping kecenderungan pada perbuatan buruk, tetapi di sisinya terbuka pintu rahmat yang mengisyarakatkan jika manusia mau mengendalikan dirinya untuk tidak melakukan keburukan, pasti bisa, dan (3) rahmat di sini bisa bermakna bahwa dalam diri manusia ada faktor keseimbangan potensi. Nafs yang dirahmati oleh Allah itu disebut nafs muthmainnah, sedangkan nafs yang tidak dirahmati-Nya, bernama nafs ammarah. Dalam hubungannya dengan pendayagunaan potensi nafs ini ke arah yang dikehendaki oleh yang menciptakannya, Imam Al-Ghazaly, seorang tokoh sufi yang masyhur, antara lain pernah mengakatakan bahwa nafs itu tidak boleh dibunuh melainkan ia (nafs) harus di arahkan kepada hal-hal yang positif.

Raghib Al-Ishafahani sebagai yang dikaji Filsafat Moral-nya oleh Amril M melalui tesis doktoralnya, Etika Islam Telaah Pemikiran Filsafat Moral Raghib Al-Ishfahani (2002), antara lain mengatakan bahwa manusia mestinya tidak hanya mengejar kemuliaan perilaku yang tertinggi untuk meraih jannah al-ma`wa sebagai tujuan tertinggi, tetapi juga dengan memiliki makarim al-shari`ah, manusia dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah swt dengan baik.

Dalam menjalankan fungsi kemanusiaan kita secara baik, maka di dalam Alquran, oleh Allah swt telah diperintahkan untuk selamanya berbuat baik. Ukuran kebaikan bukan semata-mata ditentukan oleh seorang yang menghadapkan dirinya ke arah tertentu, tetapi bagaimana agar pengabdiannya kepada Allah itu kesemuannya berstandar baik dan mendatangkan kebaikan. Kebaikan yang kita maknai dari kata birr itu sangat dekat dan berhubungan secara fungsional dengan keshalihan dan ketaqwaan seseorang. Demikian beberapa keterangan dan analisis semantik yang dilakukan oleh Toshihiko Izutsu dalam bukunya, Ethico-Religious Concepts in The Quran, ketika menelaah makan al-birr di dalam kitab Alquran.

Guna menampilkan konsep dan ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat yang pluralis, seperti di negeri kita, ternyata tidak harus melalui penampilan dan perilaku yang garang, kasar, dan menyeramkan, melainkan seperti yang disebutkan di dalam Alquran maupun Hadits Rasulullah Muhammad saw adalah dengan cara yang santun, prosedural dan mengesankan sehingga ajaran yang penuh rahmat Allah swt itu langsung menghunjam ke dalam lubuk hati siapapun. Mengenai hal ini, ada beberapa contoh konkret kesuksesan Nabi Muhammad menaklukkan watak yang keras, melunakkan hati yang pekat adalah dengan cinta, kasih sayang. Contohnya “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar. tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (Q.s. Ali `Imran/3:159).

Ini adalah fakta sejarah bagaimana beliau mencontohkan implementasi ajaran Islam yang penuh dengan rahmat, kesejukan dan kedamaian bagi siapapun. Maka pantas bila suatu ketika isterinya, `Aisyah r.a. menyatakan bahwa perilaku beliau seperti yang terbaca di dalam Alquran. Perilaku yang mulia sebagai pancaran wahyu Allah dari diri Rasulullah saw itulah yang oleh Quraish Shihab digambarkan, “Muhammad itu ibarat Alquran berjalan”. Ternyata, ini pulalah kunci keberhasilan beliau yang sangat sulit kita wujudkan manakala kita mulai kehilangan metodologi dan sistem serta akal sehat untuk menampilkan kepribadian yang berakhlaq itu.

Bukankah kita sering berdalih terhadap beberapa kanyataan yang kurang berkenan, “kesabaran saya sudah habis”, “apa boleh buat tidak ada lagi jalan kompromi”, dan  sejenisnya. Rupanya untuk meniru dan meneladani akhlaq Nabi Muhammad saw dalam keseharian kita yang multi-kompleks ini masih perlu terus belajar dan mempelajari kehidupan beliau serta memerlukan suatu seni berakhlaq, sehingga pada gilirannya kita menegakkan berbagai sisi kehidupan ini secara lebih mulia dan menimbulkan minat bagi siapa saja yang mau berkehidupan seperti kehidupan dan akhlak beliau, sehingga akhirnya kita semua bisa berkata: “Inilah aku muslim yang hadir dan berada di sekitar anda senantiasa mendatangkan kesenangan dan kebahagiaan kepada sesama”.

Ke depan ini, tampaknya kita semua Islam harus bekerja secara sungguh-sungguh dan sistematis lagi untuk menampilkan akhlaq Islam, karena inilah sebenarnya misi utama diutusnya Nabi Muhammad saw ke dunia ini, sebagaimana pernyataan beliau sendiri bahwa “Sesungguhnya Aku diutus menyempurnakan akhlaq yang mulia”. Marilah kita tampilkan lebih awal akhlaq Islam dari pada fiqh Islam, dan berbagai sisi Islam lainnya.

Karena itu saya mengajak kepada kita untuk bersyukur karena Pemerintah kita yang sedang berusaha sungguh-sungguh dengan berbagai cara bagaimana agar kehidupan berbangsa dan bernegara kita semakin baik dari hari-hari yang lalu. Kita adalah bangsa yang besar dan wilayah yang bersebelahan langsung dengan ibu kota Negara Republik Indonesia dan sebagai masyarakat religius untuk membuktikan salah satu ayat Allah “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia” (Q.s. Alu ‘Imra/3:110).

Semoga Allah selalu memberi kita hidayah dan Rahmat-Nya untuk meneladani perilaku kehidupan Rasulullah saw.