Ahmad Heryawan Ajak Ormas Peduli Citarum
Di Posting Oleh : bappeda jabar humas, Tanggal : 22 Jan 2018 08:39 , Dilihat Sebanyak : 40 Kali

BANDUNG — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat, bersama Kodam III/Siliwangi melakukan sosialisasi gerakan Citarum Harum Bestari kepada sejumlah organisasi masyarakat (Ormas) se-Bandung Raya.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) memberi pengarahan soal pelestarian kembali Sungai Citarum tersebut, kepada sekitar 1.000 anggota Ormas, di Aula Graha Tirta Siliwangi, Jalan Lombok, Bandung, Sabtu (20/01/2018).

Adapun sejumlah Ormas yang hadir pada kegiatan sosialisasi tersebut diantaranya FKPPI, AMS, GMBI, KNPI, HMI, dan lainnya.

“Kita melakukan sosialisasi dan Kapengdam selaku wakil satgas juga langsung melakukan sosialisasi ke berbagai pihak. Tadi pagi saja melakukan sosialisasi kepada pihak kampus beserta mahasiswanya,” kata Gubernur Aher.

Sementara itu, AherĀ  menerangkan bahwa air di sungai seharusnya menjadi air andalan bagi kehidupan masyarakat yang mengalir dari hulu, tengah, sampai ke hilir.

“Artinya, setiap hujan besar debit air bisa saja naik, tapi tidak sampai banjir, dan kalau debitnya berkurang saat kemarau, tidak menyebabkan kekeringan,” kata Aher.

Solusinya, kata Aher, yakni normalisasi daerah tangkapan air dan Daerah Aliran Sungai (DAS) di Citarum. Kemudian, kualitas air harus terjaga dari hulu ke hilir, tanpa ada campur tangan dari kotoran atau pembuangan apapun oleh masyarakat.

“Maka semua elemen masyarakat Jawa Barat harus memiliki kesadaran dan perhatian yang sama dalam upaya pelestarian daerah aliran sungai (DAS) Citarum,” ungkap Aher.

Namun Aher menyayangkan, saat ini masyarakat masih memiliki kultur buruk yang tidak pernah merasa bersalah jika membuang sampah langsung ke sungai.

“Malah kita biasa-biasa saja saat tetangga kita, teman-teman kita membuang apapun ke sungai,” sambungnya.

Lebih lanjut Aher menjelaskan, untuk menangani Citarum bisa melakukan pendekatan struktural dan non struktural.

“Struktural adalah upaya menormalisasi sungai, menormalisasi irigasi, atau membuat IPAL,” tambahnya.

Sedangkan langkah non struktural contohnya yaitu penataan ruang, pengendalian erosi, pengendalian alih fungsi lahan, pengendalian perizinan lahan, pemetaan sungai, pembuatan kawasan lindung, dan peningkatan partisipasi masyarakat untuk konservasi Citarum.

“Dan juga sosio-cultural, terkait kultur untuk mengatakan ‘tidak,’ tidak tebang pohon, tidak buang kotoran ternak, tidak membuang limbah rumah tangga, tidak membuang limbah industri,” imbuh Aher.

Oleh karena itu, Aher berharap para Ormas bisa ambil peran terkait penanganan Sungai Citarum, karena Ormas bisa bergerak di berbagai sektor.

“Mulai dari sosialisasi penyadaran ke masyarakat, hingga pengawasan kepada oknum-oknum yang selama ini membuang limbah ke sungai,” katanya.

Peran ormas sendiri, lanjut Aher, bisa melalui aksi langsung seperti melakukan konservasi, maupun peran sebagai upaya penyadaran kepada masyarakat termasuk bersama aparat hukum memberikan pengawasan kepada beberapa pihak yang selama ini membuang limbah.

“Ormas ini bisa berperan aktif dalam upaya mewujudkan Citarum Harum Bestari. Mereka bisa melakukan konservasi, penyadaran kepada masyarakat termasuk pengawasan bersama aparat hukum,” pungkas Aher.