Kampung Walagri Reinventing Pelayanan Kesehatan Jiwa Provinsi Jawa Barat
Di Posting Oleh : HUMAS BAPPEDA JABAR, Tanggal : 07 Dec 2016 13:25 , Dilihat Sebanyak : 133 Kali

Oleh: Emi Patmisari (Fungsional Umum BP3IPTEK Provinsi Jawa Barat)

 

Kesehatan menjadi salah satu indikator utama penunjang pembangunan manusia karena tingkat produktivitas manusia dapat optimal bila secara fisik, mental, dan sosial dalam kondisi sehat. Menurut Undang-Undang No. 18/2014, Kesehatan Jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya. Untuk dapat mewujudkan masyarakat yang sehat jiwa upaya kesehatan jiwa diselenggarakan secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.

Prevalensi gangguan mental-emosional di Provinsi Jawa Barat berdasarkan data Riskesdas tahun 2007 berada di atas rata-rata nasional, yaitu 20% dan khusus untuk gangguan jiwa berat 2,2 per mil. Tingginya prevalensi gangguan jiwa di Jawa Barat akan berdampak pada lambatnya pencapaian visi Jawa Barat menjadi Provinsi Termaju di Indonesia tahun 2025. Pembangunan kesehatan jiwa di Provinsi Jawa Barat merupakan tugas pokok dari Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan data kunjungan pasien di instalasi rawat jalan RSJ Provinsi Jabar, jumlah pasien dari tahun ke tahun menunjukan peningkatan yang sangat signifikan, pada tahun 2011 tercatat 30.643 kunjungan, tahun 2012 sebanyak 32.823, kemudian pada tahun 2013 menjadi 35.986, dan pada tahun 2014 tercatat 40.311 kunjungan. Adanya peningkatan jumlah kunjungan tersebut dapat dilihat dari dua perspektif, di satu sisi meningkatnya jumlah kunjungan berarti meningkatnya pendapatan RSJ Provinsi Jabar sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), namun di sisi lain hal ini merupakan indikasi yang buruk terhadap keberhasilan pembangunan sistem pelayanan kesehatan jiwa, dimana seiring dengan meningkatnya public awareness terhadap masalah kesehatan jiwa, masyarakat seharusnya dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan tingkat pertama dan kedua, bukan bermuara di RSJ Provinsi Jabar sebagai fasilitas kesehatan tingkat ketiga.

Selain semakin meningkatnya prevalensi masalah kesehatan jiwa di masyarakat, dengan kondisi perubahan masyarakat yang dinamis dan perkembangan pelayanan kesehatan yang terus berubah sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, RSJ Provinsi Jabar juga harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut dan sebagai lembaga Badan Layanan Umum Daerah BLUD yang harus memiliki sumber pendapatan yang dapat diandalkan, RSJ Provinsi Jabar harus mampu bersaing memperluas pangsa pasar (market share) untuk memberikan pelayanan kesehatan jiwa yang modern, berkualitas, beyond the expectation bukan sekedar menjalankan rutinitas atau business as usual. Bagi RSJ Provinsi Jabar, perubahan menuju pelayanan kesehatan jiwa modern menjadi tantangan yang sangat besar, terlebih masalah kesehatan jiwa dikategorikan sangat unik dan yang paling utama adalah sangat berhubungan dengan kondisi sosio-kultural. Salah satu contohnya adalah adanya keyakinan bahwa gangguan jiwa disebabkan karena hal-hal mistis dan religius sehingga pengobatan alternatif lebih diminati dibanding terapi medis. Untuk dapat menjawab tantangan-tantangan seperti disebutkan di atas, diperlukan kajian komprehensif terkait konsep holistik pengembangan rumah sakit jiwa untuk pengembangan pelayanan kesehatan jiwa di Provinsi Jawa Barat.

Kampung Walagri Sebagai Konsep Reinventing Pelayanan Kesehatan Jiwa Provinisi Jawa Barat

Pendekatan baru atau modernisasi pelayanan kesehatan jiwa saat ini di berbagai negara telah banyak berubah dari sistem kustodial yang memusatkan perawatan tertutup di rumah sakit jiwa kepada sistem yang terbuka berbasis masyarakat. Pelayanan kesehatan jiwa di Indonesia berkembang berdasarkan ilmu psikiatri di dunia Barat. Hingga saat ini, pendekatan pengobatan gangguan jiwa berbasis medical science ini ternyata belum sepenuhnya mendapat tempat di masyarakat Indonesia. Sampai saat ini masyarakat masih mempercayai “orang pintar” untuk menyembuhkan gangguan jiwa dibandingkan psikiater.

Pasung adalah sebuah fenomena yang erat kaitannya dengan permasalahan sosiokultur masyarakat, pasung dapat dipandang sebagai sebuah pendekatan yang bersifat community-based versi masyarakat Indonesia. Kementerian Kesehatan RI telah mencanangkan program Indonesia Bebas Pasung sejak tahun 2010, tetapi sampai sekarang banyak diantara Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dipasung oleh keluarganya, juga tidak sedikit keluarga yang membawa ODGJ atau Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) berobat ke ‘orang pintar’ atau pengobatan alternatif. Ketidakberhasilan penanganan kasus pasung di masyarakat bahkan telah melatarbelakangi munculnya sebuah ketentuan pidana dalam UU No. 18/2014 untuk setiap orang yang melakukan pemasungan/penelantaran/ kekerasan terhadap ODGJ/ODMK. Mempidanakan kasus pasung bukanlah sebuah strategi yang solutif penanganan masalah kesehatan jiwa, karena hal ini akan menimbulkan permasalahan lain sebagai wave of consequences dari sebuah kebijakan.

Muncul pertanyaan, fasilitas kesehatan jiwa seperti apakah yang sesuai dengan kondisi sosio-kultural masyarakat Indonesia namun didasarkan pada evidence-based practice perkembangan science dan teknologi. Konsep KAMPUNG WALAGRI adalah sebuah pendekatan yang mengintegrasikan pendekatan global yang dikontekstualisasikan secara lokal untuk memfasilitasi ODGJ dan ODMK agar dapat mengoptimalkan semua potensinya sehingga  dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya.

 

Filosofi global Kampung Walagri

Di negara barat, transformasi pelayanan kesehatan jiwa sudah berlangsung sejak Perang Dunia II. Sejak selesai PD II, reformasi kesehatan jiwa berlangsung di Inggris, Amerika, yang kemudian diikuti oleh negara-negara di Eropa. Pada tahun 1950an, istilah deinstitutionalization yang ditandai dengan ditutupnya Rumah Sakit Jiwa di negara-negara Barat menjadi sangat populer. Di Inggris misalnya, dengan adanya Mental Health Act tahun 1959, seluruh Rumah Sakit Jiwa di Inggris ditutup, pelayanan kesehatan jiwa ditransformasi menjadi pelayanan non-hospital-based berkesinambungan di masyarakat yang didukung oleh pelayanan sosial pendukung lainnya. Kesuksesan reformasi pelayanan jiwa ini didukung oleh semakin baiknya inovasi psikofarmaka atau obat-obatan. Dengan obat-obatan psikotropika terbaru, pasien-pasien tidak lagi harus di rawat inap dalam jangka waktu yang lama di Rumah Sakit. Di Amerika, sejak tahun 1960an psikiater tidak lagi bekerja di rumah sakit jiwa, mereka bekerja di klinik-klinik atau pusat kesehatan yang lebih dekat dengan masyarakat. Pelayanan kesehatan jiwa berbasis masyarakat ini dilaporkan memiliki outcome yang lebih baik, diantaranya menurunnya angka pasien yang dropout dari pengobatan, meningkatnya kepuasan dan kualitas hidup pasien.

Sebuah pendekatan yang dinamai recovery-oriented approach adalah prinsip yang melandasi perubahan paradigma pelayanan dari hospital-based ke community-based. Konsep recovery-oriented approach atau pendekatan berbasis pemulihan  ini bertujuan untuk memfasilitasi kesehatan jiwa, meminimalkan dampak dari gangguan jiwa, dan mengelola gejala gangguan jiwa. Dengan menggunakan asas equity dan social justice, pendekatan baru ini muncul sebagai solusi terhadap kelemahan model bio—medical approach yang hanya berfokus pada pengobatan tanda dan gejala penyakit.

Dalam bukunya Muir-Cochrane et al. (2010), recovery atau pemulihan diartikan sebagai pendekatan filosofis dan praktis dalam pelayanan kesehatan jiwa yang menitikberatkan pada potensi individu untuk dapat hidup sesuai keinginannya. Pemulihan yang dimaksud memiliki banyak arti, recovery bukan hanya sebatas pulih dari gejala gangguan jiwa, tetapi lebih mengandung makna sebuah perjalanan individu untuk dapat hidup produktif sesuai potensi dirinya. Perbedaan yang paling nyata antara pendekatan bio—medical approach dan recovery-oriented approach adalah what is your problem? versus what is your goal?, pasien tidak lagi ditanya “apa masalah anda?”, tetapi “apa tujuan anda?”. Prinsip penatalaksanaan gangguan jiwa ini lebih berfokus pada “person-centered” bukan “physician-centered”, apa yang diinginkan pasien bukan apa yang diinginkan dokter. Whitley dan Drake (2010) mengelompokan recovery menjadi 5 kategori, yaitu:

  1. Clinical recovery – pemulihan klinis yaitu perbaikan tanda dan gejala gangguan jiwa;
  2. Existential recovery – pemulihan eksistensi yaitu tumbuhnya harapan, pemberdayaan, kepercayaan diri, dan sejahtera secara spiritual;
  3. Fuctional recovery – pemulihan fungsi yaitu mengembalikan atau mempertahankan peran dan tanggung jawab sosial termasuk pekerjaan, pendidikan, dan tempat tinggal;
  4. Physical recovery – pemulihan fisik yaitu tercapainya kesehatan yang lebih baik dan gaya hidup yang sehat;
  5. Social recovery – pemulihan sosial yaitu meningkatnya hubungan sosial yang bermakna dan penerimaan oleh keluarga, teman, dan masyarakat.

Adopsi dan adaptasi model recovery-oriented approach ini di Indonesia akan memberikan dampak yang positif, ODMK/ODGJ dan keluarga tidak akan lagi merasa “malu” atau “enggan” menyadari bahwa mereka mengalami gangguan jiwa baik ringan maupun berat. Hal ini tentu akan semakin menurunkan stigma di masyarakat bahwa gangguan jiwa sama dengan penyakit fisik lainnya. Sama seperti pasien yang seumur hidupnya dinyatakan menderita Diabetes, dengan model recovery-oriented ini upaya kesehatan bagi mereka adalah bagaimana mereka dapat hidup produktif dan bermakna untuk diri dan orang-orang disekitarnya.

Pelayanan kesehatan jiwa yang bertransformasi dari hospital-based yang bersifat kustodial dan tertutup menjadi community-based dengan mengaplikasikan filosofi recovery-oriented approach, diikuti juga dengan transformasi tempat.  Ilmu yang dapat dikatakan masih baru yaitu geografi kesehatan (health geography) adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara ‘tempat’ (place) dan ‘individu’ (self). Menurut geografi kesehatan, arti sebuah ‘tempat’ mempengaruhi persepsi individu mengenai kondisi dan kualitas hidupnya.

Wil Gesler (1992) memperkenalkan konsep therapeutic landscapes yaitu teori yang menjelaskan hubungan antara kesehatan, penyembuhan, dan tempat. Therapeutic landscapes yang dimaksud adalah tempat spesifik dengan suasana terapeutik biasanya sangat bernuansa spiritual dan religius yang dipercaya akan memberikan kekuatan untuk sembuh. Saat ini kita mengenal adanya healing garden dibangun di rumah sakit, ini merupakan contoh therapeutic landscapes. Lokasi yang umumnya dipergunakan untuk therapeutic landscapes ini adalah perkebunan natural, pantai, sungai, dan pegunungan. Penelitian telah membuktikan bahwa tempat perawatan yang terbuka dan bernuansa alam sangat membantu pemulihan pasien-pasien gangguan jiwa, Alzheimer’s, dan penyakit yang berhubungan dengan stress (Raver, 1995; Palka, 1999; Friedrich, 1999; Brawley, 2001; Hitching, 2002). Menurut perspektif geografi medis, lingkungan adalah salah satu penyebab individu menjadi sakit, sehingga muncul definisi sakit yang lebih sakit holistik yang melibatkan interaksi kompleks antara faktor fisik, mental, emosional, spiritual, lingkungan dan sosial.

 

Filosofi lokal Kampung Walagri

Sebagai sebuah enterprise yang menjadi centre of excellence pelayanan kesehatan jiwa, RSJ Provinsi Jabar mengadopsi dan mengadaptasi perkembangan kesehatan jiwa global dalam konteks lokal. Konsep recovery-based approach ini diterapkan dalam sebuah therapeutic landscapes dengan nama KAMPUNG WALAGRI sesuai dengan kearifan budaya lokal. Filosofi KAMPUNG WALAGRI adalah penerapan sistem pelayanan kesehatan jiwa terbuka dan terintegrasi, yang berorientasi pada pelayanan berbasis pemulihan, mengingat keberadaan RSJ Provinsi Jabar yang berada di lingkungan masyarakat Sunda perdesaan yang religius dengan mata pencaharian pertanian.

KAMPUNG sendiri bermakna tempat atau lingkungan atau ”wewengkon” dalam bahasa Sunda yang bermakna suatu tempat yang dihuni oleh berbagai individu dalam beraktifitas dan berinteraksi sosial dalam kegiatan ekonomi maupun budaya. Karena itu penamaan kampung sendiri mempertimbangkan adanya harapan interaksi sosial terhadap individu dengan masalah kesehatan jiwa atau gangguan jiwa yang selama ini ditangani dengan pola pemisahan dari masyarakat, atau bahkan terisolasi dari kehidupan sosial dan budaya lingkungannya. WALAGRI adalah sebuah frase dalam istilah Sunda yang bermakna sebuah kondisi individu yang sehat baik fisik, mental, sosial dan spiritual. Walagri sendiri merupakan istilah yang dikenal dalam masyarakat Sunda untuk menggambarkan sebuah kondisi yang baik secara holistik. KAMPUNG WALAGRI menggabungkan filosofi lingkungan tempat berinteraksi sosial dengan landasan budaya yang luhur untuk menciptakan individu yang sehat secara fisik, mental, sosial, dan spiritual. Hal ini sejalan dengan visi dan misi Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan unggul.

Latar belakang konsep ini didasari oleh dua hal pokok yang menjadi keunggulan RSJ Provinsi Jabar ditinjau dari lokasi maupun dari aspek lingkungan. Secara lokasi RSJ Provinsi Jabar memiliki letak yang startegis mengingat Kawasan Bandung Utara menjadi kawasan sejuk yang dijadikan lokasi wisata dengan suasana pegunungan. Suasana pegunungan ini sangat ideal untuk konsep therapeutic lanscapes dan menjadi keunggulan yang dapat dijadikan mercusuar strategi bisnis dalam rangka perawatan dan pemulihan pasien dan pengembangan keilmuan kesehatan jiwa yang tidak dimiliki rumah sakit lain di Jawa Barat. Keunggulan lain adalah kawasan Rumah Sakit Jiwa Jawa Barat memiliki potensi agrowisata dimana dari total ±23,28 Ha baru tergarap 18% untuk fungsi rumah sakit dan pendukung lainnya. Wilayah tanah yang sangat luas dan dipadukan dengan landscape daerah pegunungan sangat sempurna untuk pengembangan kawasan therapeutic. Atas dasar itu pengembangan ke depan akan difokuskan mengintegrasikan fungsi pertanian dalam satu kawasan sekaligus membina lingkungan dan komunitas sekitar dalam aktifitas yang dilakukan di dalam kawasan rumah sakit.

Desain KAMPUNG WALAGRI akan menerapkan sebuah area yang semi-permeable dan permeable. Zona semi-permeable adalah area pelayanan kesehatan jiwa yang berupa klinik rawat jalan, rawat inap, dan gawat darurat. Area semi-permeable ini hanya dapat diakses pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan atau individu/kelompok dengan otoritas khusus. Zona permeable adalah kawasan terbuka yang berfungsi memiliki 3 fungsi, yaitu:

  1. Recovery village, atau transition area adalah kompleks transisi untuk memfasilitasi dan menyiapkan ODGJ kembali ke kehidupan di masyarakat, berada dibawah pengawasan tenaga kesehatan selama 24 jam.
  2. Development Centre, adalah area yang difokuskan sebagai pusat pengembangan, penelitian, pelatihan, dan pendidikan kesehatan jiwa.
  3. Public space, area publik ini dapat diakses oleh seluruh masyarakat untuk kegiatan yang akan difokuskan pada kompleks bisnis. Sangat dimungkinkan ODGJ/ODMK berpartisipasi aktif dalam kegiatan bisnis di kompleks ini.

 

Rencana Tapak “Kampung Walagri”

Secara garis besar akan terdapat tiga fungsi utama dalam kawasan pengembangan Kampung Walagri, antara lain seperti terdapat pada gambar berikut:

1. Fungsi Pelayanan Kesehatan

Terdiri dari tiga fungsi utama yaitu perawatan, perkantoran dan pendukung. Secara proporsi, fungsi rumah sakit mengambil 40% luas kawasan, artinya hampir 10 hektar lahan akan diperuntukan sebagai zona private yang hanya dapat diakses oleh pasien, keluarga pasien serta karyawan rumah sakit itu sendiri.

2. Fungsi Pengembangan

Fungsi pengembangan, development centre akan meliputi fasilitas untuk pendidikan, pelatihan, penelitian kesehatan jiwa menjadi penting karena dalam jangka panjang RSJ Provinsi Jabar akan diusulkan sebagai rumah sakit dengan fungsi pendidikan kesehatan jiwa. Untuk itu sebanyak 5% dari total lahan akan dialokasikan sebagai zona pendidikan di bagian utara kawasan dengan akses dari pintu utara. Hanya mahasiwa, tenaga kesehatan, staf, pengajar yang memiliki akses menuju dan keluar dari zona pengembangan ini.

3. Fungsi Komunitas: Outdoor dan Adventure

Kegiatan outdoor seperti camping, outbound dan wisata alam merupakan hal yang sering dilakukan di beberapa titik di Kawasan Bandung Utara, untuk itu konsep ini diusulkan sebagai upaya mengintegrasikan fungsi-fungsi tersebut kedalam kawasan. Lokasi zona camping ground dan outdoor berada di timur tapak dengan luas 10% dari total kawasan. Adapun pengguna fasilitas tersebut diperuntukan untuk publik. ODMK/ODGJ yang sudah dilatih dengan beberapa keterampilan praktis akan dilibatkan sebagai pegawai di kawasan ini.

4. Fungsi Komunitas: Pusat Kegiatan Masyarakat

Pusat kegiatan masyarakat adalah sarana pendukung di dalam tapak yang diusulkan sebagai lokasi community development bagi pengembangan ekonomi maupun sosial masyarakat. Hal ini dapat mendatangkan dua keuntungan antara lain: adanya interaksi antara masyarakat dengan manajemen rumah sakit sekaligus ruang interaksi pasien dengan lingkungan dalam proses recovery atau pemulihan paska penanganan medis. Community Centre sendiri dibangun berada di bagian depan tepat pada titik persimpangan. Hal ini untuk memudahkan akses masyarakat serta menjaga zona privasi areal perawatan. Di area ini pusat kegiatan keagamaan misalnya dibangunnya masjid atau pesantren bisa menjadi salah satu aktivitas utama.

5. Fungsi Komunitas: Agrimarket

Seperti telah dijelaskan di atas bahwa potensi pertanian merupakan keunggulan kawasan di sekitar Rumah Sakit Jiwa, untuk itu pengembangan pasar Agrimarket di dalam kawasan dalam rangka menunjang aktivitas rumah sakit sekaligus sumber pendapat lain rumah sakit dalam rangka peningkatan kualitas layanan. Pengelolaan Agrimarket sendiri akan dikelola oleh sumber daya internal yang ada sekaligus memberdayakan ODMK/ODGJ serta petani masyarakat sekitar.

Pengembangan pelayanan kesehatan jiwa di Provinsi Jawa Barat dalam tulisan ini mengadopsi dan mengadaptasi beberapa pendekatan best practices dari beberapa negara-negara yang telah menerapkan transformasi pelayanan kesehatan jiwa yang semula berorientasi pada pelayanan kustodial hospital-based menjadi community-based. Berdasarkan hasil kajian, konsep KAMPUNG WALAGRI adalah sebuah konsep solutif pengembangan pelayanan kesehatan jiwa di Jawa Barat yang dapat diterapkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Model Kampung Walagri ini merupakan kajian yang dapat dijadikan sebagai rekomendasi untuk pengembangan sarana dan prasarana RSJ Provinsi Jabar. Konsep ini berkembang tidak hanya dengan berlandaskan bukti atau evidence-based dari best practices namun juga disesuaikan dengan local wisdom masyarakat Sunda. Kampung Walagri ini akan menjadi kunci yang membuka horison baru dalam pengembangan konsep pelayanan kesehatan jiwa tidak hanya di Jawa Barat tetapi juga yang pertama di Indonesia.