3.600 Orang Kunjungi Museum Gedung Sate
Di Posting Oleh : bappeda jabar humas, Tanggal : 25 Jan 2018 09:21 , Dilihat Sebanyak : 57 Kali

BANDUNG, ANTARA NEWS — Museum Gedung Sate Kota Bandung yang baru diresmikan sepekan lalu telah dikunjungi lebih dari 3.600 orang sesuai data yang tercatat oleh pengelola dengan berbagai latar belakang dan rentang umur.

“Museum Gedung Sate berhasil menyedot perhatian dan antusiasme masyarakat Jawa Barat, hingga rekor kunjungan menembus angka 1.200 orang dalam satu hari,” kata Tour Conductor Museum Gedung Sate Hary Juliman di Bandung, Jawa Barat, Jumat.

Hary mengatakan museum di sayap timur basement bangunan heritage yang memiliki luas hanya 500 meter persegi itu mendapatkan sambutan yang luar biasa dari masyarakat. Komentar dari mereka juga tak terduga, kata dia, karena museum ini dianggap memberikan nuansa yang berbeda. Mereka heran sekaligus takjub akan kebersihan, kenyamanan, kecanggihan teknologi yang memberikan informasi yang banyak walaupun dengan ruangan yang hanya seluas ini. Dalam seminggu ini diakui Hary memberikan banyak pelajaran (edukasi) dan catatan berharga bagi para pengelola museum.

“Ternyata, kata Hary, anak-anak kecil sangat menyukai ruang audio visual, augmented reality, bahkan ada beberapa anak yang dengan terpaksa harus diseret orang tuanya keluar, karena mereka merasa terlibat dengan visualisasi. Ini di luar dugaan dan prediksi, karena awalnya bahkan tidak didesain untuk ramah anak,” katanya.

Museum ini berkonsep membahas soal arsitektur gedung sate (sebagai gedung terindah di dunia) dan sejarah yang menyertainya. Museum itu memiliki tiga segmen. Segmen pertama ialah prolog, segmen kedua adalah eksplorasi, dan segmen ketiga ialah kontemplasi. Walaupun bertemakan sejarah, kata dia, pengunjung akan merasakan sensasi teknologi digital yang interaktif saat menggali informasi dari museum itu.

Teknologi seperti layar sentuh yang menyajikan informasi melalui grafis menarik menjadi daya tarik atraksi Museum Gedung Sate. Pengunjung juga dapat mencoba kacamata virtual reality yang membuat pengunjung seolah-olah menaiki balon udara mengelilingi area sekitar Gedung Sate. Ada juga ruangan yang membuat pengunjung seolah-olah terlibat pada pengerjaan Gedung Sate, dengan teknologi augmented reality. Ada juga beberapa display yang mengupas desain pilar, kusen, tangga, hingga ke sudut-sudut eksterior dan interior Gedung Sate. Bahkan ada tembok yang sengaja dikelupas untuk mengetahui struktur dan material penyusunnya. Ia menjelaskan ada tamu rombongan inspektorat yang merasa takjub karena tidak ada bata di bangunan tersebut. Hanya batu dan pasir saja ya, tapi bangunan itu kuat. Rombongan itu berkomentar, ternyata meski hanya batu dan pasir, kalau kerjanya benar, tidak dikorupsi, bertahan sampai selama ini.

Menurutnya, Museum Gedung Sate memberikan pengetahuan-pengetahuan baru yang membuka wawasan dan memberikan pelajaran sesuai dengan latar belakang bidang masing-masing. Museum ini menceritakan dirinya dan memberikan keleluasaan bagi semua untuk penggalian informasi melalui audio visual, gambar-gambar, maket. Memberikan pemahaman sesuai dengan kebutuhan pengunjung yang sangat heterogen, pribadi maupun rombungan, dari usia TK hingga pensiunan, juga menimbulkan proximity (kedekatan) dengan Gedung Sate yang ujungnya diharapkan timbul rasa memiliki dan ingin memelihara.

Hary juga menemukan beberapa pengunjung yang hingga berkali-kali datang berkunjung dan yang menyenangkan pengelola, menurut Hary, setiap sudut museum menjadi pojok selfie. Itu artinya, interior yang disajikan oleh Museum Gedung Sate sepenuhnya dapat diterima dan disukai oleh pengunjung. Yang tak terduga, katanya, adalah diorama figur pimpinan dari Gubernur Ahmad Heryawan dan Wagub Deddy Mizwar justru menjadi spot favorit pengunjung untuk berfoto. Sering macet di sekitar itu. Mungkin mereka yang di luar daerah diam-diam punya keinginan tinggi untuk berfoto dengan pemimpin daerah mereka tapi kesempatannya langka.

“Atau bisa jadi berfoto dengan figur Gubernur dan Wagub adalah salah satu yang bisa mereka bawa pulang dan diperlihatkan, kalau virtual reality kan sifatnya lebih ke personal experience,” lanjutnya.

Hary mengakui ada beberapa evaluasi yang harus segera mungkin ditanggulangi, seperti ketika antrean membeludak diperlukan fasilitas tunggu yang memadai dari mulai kursi, peneduh hingga toilet. Ini menjadi penting karena pihak pengelola ingin kenyamanan dan informasi mengenai gedung sate dapat dengan baik diterima pengunjung dan ini juga yang menjadi dasar pengaturan satu rombongan masuk hanya 35-50 orang dengan durasi berkisar 10-15 menit. Museum Gedung Sate yang mendapatkan apresiasi dari semua pengunjung ini tetap memiliki sisi yang meminta pemakluman dari masyarakat, terutama terkait peralatan teknologi.

Jika digunakan tanpa jeda, kata dia, peralatan berteknologi digital ini akan memperpendek umurnya. Untuk itu, menurut Hary, masyarakat perlu tahu dan maklum jika pada sebulan sekali selain Senin dan hari libur nasional, Museum Gedung Sate tutup untuk kalibrasi dalam rangka pemeliharaan. Peralatan-peralatan semacam augmented reality, virtual reality, interactive floor, itu secara berkala perlu kita setting ulang agar sensor tetap presisi dan tepat timingnya. Lalu ke depan, pengelola museum juga memikirkan untuk menyediakan tour conductor yang menguasai bahasa asing, selain Inggris, mungkin Belanda, Tiongkok, dan lain-lain.

Selain itu pihaknya juga mulai memikirkan beberapa sarana yang ramah untuk penyandang disabilitas. Hary mengatakan tercatat 10 orang wisatawan mancanegara dan satu rombongan penyandang tuna rungu tour telah mengunjungi museum pascaperesmian. Hary dan Tim Konten Museum Gedung Sate optimistis akan perkembangan materi di Museum Gedung Sate. Tim memang merancang materi museum itu untuk dapat terus tumbuh sesuai dengan penemuan-penemuan fakta sejarah baru mengenai Gedung Sate dan atau peristiwa bersejarah yang melatarbelakanginya. (Ajat Sudrajat)