2018, SMA/SMK di Jabar Berkonsep Sekolah Adiwiyata
Di Posting Oleh : HUMAS BAPPEDA JABAR, Tanggal : 09 Dec 2016 15:13 , Dilihat Sebanyak : 204 Kali

KAB. BEKASI – Sesuai dengan Undang-Undang Nomo 23 Tahun 2014, per Januari 2017 pengelolaan sekolah setingkat SMA/SMK akan beralih pengelolaan dari pemerintah kabupaten/kota ke pemerintah provinsi, Jawa Barat pun telah siap menyongsong program alih kelola tersebut. Tak hanya dari sisi manajemen, setelah alih kelola diberlakukan Pemprov Jawa Barat telah menargetkan pada 2018 mendatang sekolah-sekolah setingkat SMA/SMK akan menerapkan konsep Sekolah Berbudaya Lingkungan (SBL) atau Sekolah Adiwiyata.

SBL atau Sekolah Adiwiyata merupakan sekolah yang akan menerapkan konsep pelestarian dan kepedulian terhadap lingkungan dalam aktifitas sehari-hari. Untuk itu, pendidikan lingkungan akan menjadi fokus kegiatan sekolah untuk mewujudkan warga sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan hidup.

Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jawa Barat Anang Sudarna mengungkapkan, melalui program SBL ini pihaknya ingin mewujudkan generasi baru yang mempunyai wawasan atau berbudaya lingkungan. Dia pun menargetkan program ini akan bisa diterapkam pada 2018 di seluruh sekolah setingkat SMA/SMK di Jawa Barat.

Anang mengungkapkan hal tersebut pada acara sosialisasi Gerakan Citarum Bestari (Bersih, Sehat, Indah, dan Lestari), yang digelar di PT East Jakarta Industrial Park (EJIP) Conference Room Lt. 2 Kawasan Industri EJIP Plot 3A, Jl. Cisokan 1 Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Kamis (8/12/16).

“Kalau selama ini program adiwiyata ini program pilihan, kami sudah mengusulkan kepada Pak Gubernur dan Pak Wagub ke depan kita harus wajibkan ini (SBL) secara bertahap. Harapan kami 2018 atau selambat-lambatnya 2019 nanti SMA/SMK di Jabar sudah mengikuti program Wiyata atau Sekolah Berbudaya lingkungan,” ungkap Anang dalam acara sosialisasi tersebut.

Lebib lanjut Anang menjelaskan bahwa esensi dari Sekolah Berbudaya Lingkungan adalah untuk menanamkan budaya atau kebiasaan para siswa dan warga sekolah lainnya untuk mencintai lingkungan. Hal-hal kecil yang ingin diterapkan dalam SBL, seperti kebiasaan membawa bekal minum ke sekolah dengan menggunakan botol air minum atau tidak meminum air dalam kemasan yang bisa menghasilkan sampah, membersihkan lingkungan sekolah atau WC tidak menggunakan jasa kebersihan atau cleanig service, serta kegiatan lainnya.

“SBL atau disebut juga Sekolah Adiwiyata ini akan menerapkan pendidikan lingkungan, untuk mewujudkan warga sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan hidup, sehingga akan muncul generasi baru yang mempunyai wawasan atau berbudaya lingkungan,” ujar Anang.

Ada beberapa manfaat yang bisa diperoleh sekolah yang menerapkan SBL, diantaranya bisa meningkatkan penilaian mutu atau kualitas sekolah. Selain itu, lingkungan sekolah pun akan lebih bersih dan nyaman, meningkatkan kesadaran dan gotong royong warga sekolah untuk membersihkan lingkungan sekolah termasuk WC, dan lain-lain.

Sementara itu usai acara sosialisasi, Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar yang juga hadir mengatakan bahwa SBL merupakan program pembinaan warga sekolah – terutama para murid dan guru agar kebersihan lingkungan sekolah menjadi sebuah budaya.

“Kita ingin membangun budaya lingkugan, bagaimana pengetahuan tentang lingkungan bisa diajarkan disana supaya tercipta generasi yang terus-menerus memiliki kesadaran tentang pentingnya menjaga lingkungan,” tutur Wagub usai acara sosialisasi.

Wagub menambahkan dengan adanya penerapan konsep ini di sekolah, tidak serta merta menjadi materi pembelajaran atau bahan ujian sekolah. Pihaknya ingin para siswa dan guru menerapkan langsung kebiasaan menjaga kebersihan di setiap aktifitas di sekolah.

“Mungkin bukan sebagai materi ujian tapi akan ada semacam praktek yang terus-menerus dilakukan di sekolah dan di tempat dia (siswa dan guru) tinggal,” tukas Wagub.

Acara sosialisasi ini digelar sebagai upaya Pemprov Jawa Barat dalam mempercepat program Gerakan Citarum Bestari (Bersih, Sehat, Indah, dan Lestari). Kali ini Pemprov Jabar melalui Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jawa Barat melakukan kegiatan sosialisasi kepada para camat, kepala desa, guru/kepala sekolah, dan pimpinan pondok pesantren yang ada di Kabuapten Bekasi.

Pada kesempatan ini, disosialisasikan berbagai aksi yang telah – sedang – dan akan dilakukan Pemprov Jawa Barat dalam mewujudkan Sungai Citarum yang Bestari. Salah satunya adalah program Ecovillage atau desa berbudaya lingkungan yang sudah diterapkan di 190 desa.

Melalui Citarum Bestari, Pemprov Jabar juga terus mendorong berbagai pihak terkait terutama masyarakat dan perusahaan di sekitar Citarum agar bisa menjaga Citarum dengan Gerakan 5 (lima) Tidak: Tidak menebang pohon, Tidak membuang limbah ternak, Tidak membuang limbah rumah tangga, Tidak membuang sampah, Tidak membuang limbah industri ke sungai, serta mendorong perusahaan untuk menggunakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (Ipal) dengan baik.

“Nonstruktural dan kultural adalah urusan kita dan pemerintah daerah. Termasuk pendidikan, jadi sejak anak-anak kita beri kesadaran bagaimana berbudaya lingkungan, ini kultural dan kultural tidak bisa berhenti, kita harus lakukan sepanjang masa. Dan biasanya dilakukan melalui contoh, kalau sebelumnya buang air di sungai maka anaknya juga akan seperti itu, ikutan buang air di sungai,” pungkas Wagub.